Selamatkan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Bersama-sama

Selamatkan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Bersama-sama.
Sumber air menyusut. Perambahan hutan menyebabkan debit air susut  bahkan beberapa sumber mata mati. Untuk memenuhi kebutuhan air minum warga memanfaatkan sumber air Amprong, Watu Rejeng dan Sumber Ong. Selama 10 tahun terakhir debit air terus berkurang terutama dari Sumber Ong.

Untuk mencegah meluasnya perambahan hutan, ujicoba briket arang dari krinyuh sebagai pengganti kayu bakar. Tanaman krinyuh kerap menjadi hama di hutan konservasi TNBTS. “Masih tahap uji coba, agar masyarakat tak menebang pohon di hutan,” kata Agung Siswoyo, Kepala Resor Ranupani TNBTS.

Balai Besar TNBTS juga menyediakan zona tradisional untuk masyarakat setempat. Zona tradisional seluas 400 hektar bisa untuk memungut hutan bukan kayu, perburuan tradisional, dan wisata terbatas. Juga budidaya pakis dan jamur oleh kelompok masyarakat.

Masyarakat Ranupani, tinggal di ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut (mdpl) dalam kawasan seluas 3.579 hektar, dihuni 1.300 jiwa. Mereka menggantungkan hidup dengan bertani, menanam kentang, kubis dan bawang. Tanaman terhampar di lahan pertanian dengan kontur tanah kemiringan tajam bikin erosi.

“Tingkat erosi tergolong tinggi, mencapai 20 ton per hektar per tahun.” Sedangkan ambang batas maksimal satu ton per tahun. Pola tanam masyarakat dan pengolahan lahan intensif, menyebabkan laju erosi tinggi.

Hutan Rusak, Danau Ranupani miris. Erosi mengakibatkan sedimentasi, pendangkalan,  di Danau Ranupani, tepat berada di tengah permukiman. Erosi tanah menutup sekitar satu hektar Danau Ranupani dari semula seluas 6,7 hektar. Juga terjadi pendangkalan, danau sedalam 12 meter, sekarang kedalaman tinggal satu sampai tiga meter.

Danau juga tercemar tanaman invasive, yaitu tanaman air kiambang (Salvania molesta) menutup 90% permukaan danau. Sebelumnya, danau ini habitat burung belibis (Anseriformes) berenang dan bermain.

Enam tahun lalu, Danau Ranupani, bersih terbebas kiambang. Masyarakat secara bersama-sama membersihkan selama 36 hari. Sayangnya, salvania kembali menutup Ranupani.

Jaga bersama. Kini, masyarakat bersama kelompok pegiat lingkungan berusaha membersihkan kiambang. Rutin, setiap minggu dilakukan pengawasan terhadap pertumbuhan kiambang. Selain itu, juga melibatkan masyarakat mengelola danau dengan konsep ekowisata. Sasaran pengunjung adalah para pendaki maupun wisatawan mancanegara. Para pendaki Gunung Semeru, selalu mampir ke Ranupani, untuk mempersiapkan pendakian ke Puncak Mahameru.

Untuk menjaga kawasan hutan di Lereng Semeru, ribuan pecinta alam, mahasiswa dan akademisi bersama-sama menanam pohon. Mereka yang tergabung dalam Komunitas Gimbal Alas penghijauan sukarela.

“Mereka datang dari berbagai daerah di nusantara. Sebagian besar pernah mendaki ke Semeru,” kata pegiat Komunitas Gimbal Alas, Bambang Irawan Wibisono. Para pecinta alam ini terbiasa menapaki jalan sulit dan terjal di lereng Semeru. Sembari membawa bibit pohon aneka jenis, mereka mendaki sejauh lima kilometer.

Penghijauan di kawasan Ayeg-ayeg, Watu Rejeng, dan Sumber Danyangan. Lokasi ini hutan gundul, pepohonan habis jadi hambaran tanah.

Sebelum para pegiat dan pecinta alam menanam bibit pepohonan, pemuka agama Hindu setempat, Dukun Bambang Sutedjo, merapal doa. Dia memanjat doa untuk keselamatan dan kebaikan bagi para peserta penanaman pohon. Dia juga berpesan agar alam senantiasa dijaga untuk kebaikan umat. “Jaga dan lestarikan, atau bencana yang datang,” katanya mengakhiri doa.

Dikutip: mogabay.co.id

Baca juga…Rilis Jadwal Mudik dan Balik Gratis PT KAI Daop 7

Baca juga… Diskon 50 Persen Tarif MRT Jakarta Selama April

Baca juga… Krik, Krik, Krik…Cukup Panas, Lebih Panas, Ekstra Panas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *