Pulau Tak Bernama Milik Kerbau Rawa di Sumatera Selatan

Pulau tak bernama milik kerbau Rawa di Sumatera Selatan. Terdapat dua pulau, yang letaknya bukan di tengah lautan namun di tengah rawa di daerah dataran rendah Sumatera Selatan. Anehnya pulau itu tidak bernama, luasnya hampir sama, tidak lebih dari tiga kali lapangan bola kaki.

Di pulau pertama, setiap pagi hanya dilewati kerbau rawa (Bubalus Bubalis Carebouesis) yang akan mencari makan di rawa-rawa, begitu juga saat sore, hanya menjadi tempat melintas jalan pulang kerbau ke kandang di pulau kedua, yang jaraknya tak lebih dari empat kali tiang listrik yang direbahkan.

Sedangkan sentral pengandangan kerbau milik seluruh warga Desa Rambutan di pulau kedua. Saat malam hari, para pria kampung terutama tuan kerbau, akan bergiliran menginap di pondokan yang dibuat di setiap sarang kerbau. Total sarang kerbau di pulau kedua ini mencapai 20-an kandang dengan jumlah kerbau sebanyak ribuan ekor.

Andalan bagi masyarakat Desa Rambutan adalah kerbau rawa. Setiap penduduk hampir memiliki peliharaan kerbau. Ciri khas kerbau rawa ini adalah memiliki kulit yang tebal, berbulu hitam dengan kepala besar. Kuping di kepalanya pun lebih panjang dan tanduk yang melingkar ke arah belakang. Namun tidak hanya kerbau rawa hitam di Desa Rambutan, dari ribuan kerbau itu lumayan banyak kerbau berkulit putih kemerahan, warga setempat menyebutnya kerbau bule. 

Ada juga kerbau rawa belang, dengan warna hitam dan putih di bagian kulitnya. Dulu, kerbau rawa belang inilah yang paling mahal, harganya bahkan bisa ratusan juta bahkan lebih. Kerbau-kerbau ini juga tampak lebih tenang, dan mencari makanan di air rawa dan, konon tidak mudah sakit.

“Kami membuat kandang di pulau kedua, sedang pulau pertama kadang tempat lewat saja,” kata Kepala Dusun Rambutan, Mang Kus

Pulau pertama memang lebih indah dari pulau kedua yang notabonenya tempat sarang kerbau. Tempatnya bersih tanpa ada kotoran kerbau, pohon-pohon rimbun dengan posisi tumbuh tidak rapat. Tempat ini pun masih sepi, hanya pengembala kerbau yang sesekali lewat untuk mengerahkan peliharaannya.

“Pulau pertama itu hanya sesekali didatangi calon pengantin dari desa kami, untuk mengambil gambar sebelum pernikahan,” lanjutnya.

Untuk menuju kedua pulau ini bisa menggunakan dua metode dalam setahun, bila di musim hujan, bisa menggunakan perahu, atau rakit dengan membela rawa-rawa yang banyak ditumbuhi purun. Sedangkan di musim kemarau bisa berjalan kaki melewati rawa-rawa yang kering. Dari Desa Rambutan menuju pulau ini sejauh sekitar lima kilometer.

Desa Rambutan memang terkenal sebagai sentral kerbau rawa diSumatera Selatan. Selain Desa Rambutan, Kecamatan Rambutan, tempat sentral kerbau rawa lainnya yakni di Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Salah satu pemilik kerbau, Anton mengatakan penduduk setempat sering memanfaatkan kerbau dengan mengambil susunya. Pemerasan susu dilakukan di pagi hari, sehari bisa memproduksi 1,5 liter susu yang biasanya untuk diminum oleh pemilik atau dijual kepada pembeli yang datang ke lokasi. “Susu kerbau sesekali kami manfaatkan untuk membuat gula puan atau sagon puan,” kata dia.

Menurut Anton, tantangan kerbau rawa saat ini yakni kondisi alam yang tak bisa lagi ditebak. “Bila terlalu lama musim hujan, dan air banyak mengenangi rawa-rawa maka bisa menenggelamkan rumput sebagai pakan kerbau,” lanjut Anton.

Atau sebaliknya, sambung Anton, bila terlalu lama kemarau rumput di rawa akan kekeringan. “Syukur dua tahun ini normal kondisi alam dengan kedua musimnya,” tutur dia.

Untuk menuju lokasi kerbau rawa bisa menggunakan kendaraan roda dua atau empat, dengan jauh perjalanan sekitar 25 kilometer dengan kondisi jalan bergelombang dan berlubang. Dari Palembang, menuju pulau tak bernama di kawasan Desa Rambutan.

(sumber : Tempo.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *