Pengganti Sedotan Plastik, Usaha Sedotan dari Bambu Tamian Mampu Hasilkan Omzet Hingga Ratusan Juta Rupiah

Pengganti sedotan plastik, usaha sedotan dari bambu tamian mampu hasilkan omzet hingga ratusan juta rupiah.Tentang sampah plastik yang mencemari ekosistim dan dampak buruknya menjadi trending berita di media massa juga media sosial.

Dampak buruk tersebut sangat meresahkan,  seperti binatang  di lautan yang ditemukan mati dengan tubuhnya penuh sampah plastik dan sedotan. Mengerikan!

Dari permasalahan itu masyarakat sadar akan pemakaian plastik dan mengurangi jumlah penggunaannya dengan menggunakan non plastik.

Salah satunya dengan mulai mengurangi penggunaan sedotan plastik.

Akhirnya menjadi peluang bisnis baru yang menggiurkan. Muncul ide membuat sedotan dari bambu, yang ramah lingkungan karena bisa digunakan ulang.

Pebisnis yang melihat adanya peluang besar usaha sedotan bambu adalah Yumna Batubara yang memulainya sejak 2015. ” Selain bisa menyelamatkan lingkungan, usaha sedotan bambu juga sangat menjanjikan, ” kata Yumna.

Dengan modal Rp 10 juta, wanita berumur 21 tahun ini mengaku mampu mengumpulkan omzet Rp 100 juta per bulan.

Dihitung-hitung harga jualnya sangat terjangkau. Yumna menjual harga sedotan berkisar Rp 2.000 per unit, dengan ukuran diameter 8 sampai 12 milimeter. Bisa diproduksi 30.000 buah sedotan dari bambu tamian per bulan

Sama juga yang diceritakan Muhammad Dicky Rifaldi, Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia ini juga menekuni usaha sedotan bambu sejak 17 Januari 2019.

“Dari pemasalahan sampah yang ada, saya berusaha menghadirkan solusi untuk mengurangi sampah plastik. Termasuk mengurangi penggunaan sedotan plastik dengan memakai sedotan kekinian yang bisa berkali pakai dan bisa terurai yaitu sedotan dari bambu tamian. Bambu adalah hasil alam yang cukup melimpah dan bisa tumbuh lagi,” cerita Dicky kepada Kontan.co.id, Sabtu (4/5).

Dengan modal Rp 300.000, Dicky mampu memperoleh omzet Rp 2,5 juta hingga Rp 5,5 juta per bulan.

Soal harga, Dicky sebut itu cukup terjangkau, yaitu Rp 500 sampai Rp 800 per unit dengan ukuran 20-22 sentimeter. Dia juga mampu memproduksi 4.000-5.000 sedotan bambu per bulan.

Omong-omong soal proses pembuatan, Dicky mengatakan prosesnya cukup mudah. Yang penting bambu harus bersih dan lalu kering benar, karena kalau lembap akan menjamur. ” Bambu yang saya gunakan bambu tamian umur 3-5 tahun. Habis itu diamplas sampai halus baru kemudian dibentuk menjadi sedotan,” jelas Dicky.

Selanjutnya, selain memasarkan lewat media sosial dan marketplace, Dicky akan membuat varian produk berbahan bambu lain. Sementara Yumna, tetap akan fokus untuk membesarkan usaha sedotan dari bambu tamian

(sumber : Intisari-Online.com) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *