Sound Sistem Pesta Pernikahan

Sound System Pesta Pernikahan. Bulan Januari, tahun ini, banyak undangan manten yang kuterima. Ada lebih dari sepuluh kartu undangan manten. Kulihat satu persatu tumpukan undangan itu, dari siapa saja. Tak lupa menyimak sejenak design kartu undangan yang kuterima. Dari desain yang biasa hingga model kartu yang unik juga cantik.

Setelah membaca kartu undangan yang menerangkan dari siapa undangan itu juga kapan acaranya dan dimana maka mulai aku sortir, dalam kota dan luar kota. Ternyata lebih banyak undangan dari dalam kota. Kuambil kalender meja lalu angka dalam kalender tersebut kulingkari dengan spidol warna hijau untuk dalam kota sekalian kuberi nama pemilik hajat pernikahan tersebut,. Begitu juga undangan dari luar kota, namun dengan warna yang lain, merah. Beres.

Tinggal tentukan rencana apakah bawa kado atau angpau. Serta mengenakan busana apa untuk hadiri pesta itu. Hmm, mulai ribet.

Kisaran tiga hari kemudian aku dengan beberapa teman seprofesi datang ke sebuah acara pernikahan yang letaknya di pelosok. Dua kilometer sebelum tiba dari tempat yang kami tuju sama-samar terdengar musik dangdut genre koplo. Hihihi. Dan akhirnya kami tiba di tempat acara pernikahan itu.

Pesta pernikahan itu biasa saja khas pelosok. Saat itu para tamu yang datang lumayan banyak. Namun yang menjadi perhatianku adalah sound sistem yang meramaikan pesta pernikahan tersebut. Sound sistem yang berukuran 80×80 cm terpajang delapan kotak untuk sisi kiri dan jumlah yang sama untuk sisi kanan yang kurasa tak sebanding dengan areal halaman rumah yang berukuran kira-kira 3 x 5 m. Suara musik pun memekakkan telinga dan rada menggetarkan dada. Kalaupun hendak bicara mulut kita mesti didekatkan dengan kuping lawan bicara. Kian riuh pula suara mesin genzet yang berfungsi sebagai penggerak sound sistem tersebut. Suaranya saling timpal dengan lagu yang diputar saat itu, masih dangdut koplo.

Aku tidak habis pikir, sepertinya jasa sound sistem mantenan tidak mengukur atau menghitung kebutuhan suara yang ditimbulkannya. Tidak diukur pula dampak dilingkungan itu, terutama dampak kurang baiknya. Seperti kalau dengan suara sekeras ini apa tidak menggangu sekitarnya, mengganggu semisal ada bayi yang masih baru lahir, atau orang sedang sakit yang butuh ketenangan. Kayaknya jasa sound sistem mantenan kurang memahami itu. Bisa diduga tujuannnya adalah bahwa di situ ada hajatan dan yang penting ramai. Sudah. “Jangan mengupas terlalu dalam suasana sini. Anggap ini suatu ciri khas acara pernikahan orang sekitar sini.” Kata temanku sembari menyikut lenganku. Dia hapal sekali gayaku apabila aku sudah diam dan mataku mulai menjelajah ke setiap sudut suasana pesta itu.

Aku tersenyum dan kembali ingatanku pada hajatan pernikahan tetanggaku. Cerita yang sama, tentang sound sistem pesta pernikahan. Tetanggaku yang rumah tinggalnya masuk sebuah gang yang berukuran 1,5 meter, dan jarak dari jalan besar ke rumahnya kira-kira 100 meter, punya hajatan pesta pernikahan. Untuk menandakan dia punya hajatan dan agar tamunya gak kesasar dia pasang sound sistem yang agak ugal-ugalan kapasitasnya di ujung gang itu. Cukup mengusik nalarku, kenapa di ujung gang tidak diberi saja janur kuning, lalu sound sistemnya di pasang di teras rumahnya dengan kapasitas secukupnya sebagai penambah kemeriahan pesta pernikahan. Asik kan? Ya, mudah-mudahan tetanggaku itu tidak menyelenggarakan pestanya selama tujuh hari tujuh malam. Aku tak bisa membayangkan bisa-bisa tetangga yang terdekat jabrik rambutnya kayak dragon ball, atau mukanya ditekuk-tekuk, atau kepalanya panas sampai-sampai kalau telur ditaruh di atas kepalanya bisa matang. Wakakak

Mungkin aku harus setuju akan kata-kata temanku, “Anggap ini suatu ciri khas acara pernikahan orang sekitar sini.”

Ya, itulah warna keramaian sound sistem pernikahan.  

Buwuh Pesta Pernikahan

Buwuh Pesta Pernikahan. Ini pun ceritaku tentang undangan sebuah pesta pernikahan, yang seharusnya kuceritakan juga pada saat cerita soal sound sistem pernikahan, namun kupisah agar ceritaku lebih fokus apa yang akan kupaparkan. Kali ini ceritaku tentang buwuh, atau kado untuk kemantenan dalam bentuk uang. Praktisnya disebut angpao.

Saat aku dan teman-teman seprofesi datang ke pesta pernikahan di pelosok kami serombongan memutuskan buwuh saja, tidak bawa kado. Dan seperti umumnya pesta pernikahan lainnya ketika sebelum menemui kedua mempelai kami berhenti dulu pada meja penerima tamu. Dua orang pria berkopyah dan baju koko sibuk menyatat pada sebuah buku besar. Kami berdiri antre menunggu dua ibu-ibu yang sedang berbicara dengan penerima tamu tersebut. Alangkah kagetnya ketika apa yang kulihat cara penerima tamu itu saat menerima buwuh dari para tamu undangan.

Dua ibu itu dengan sedikit kemayu dan penuh sumringah mengulurkan amplop yang ditangannya pada penerima tamu.

“Nama Sampean, Bu?” tanya pria penerima tamu.

“Bu Malik, Dusun Tebuan,” jawab ibu itu dengan nada riang.

Pria itu menyatat nama ibu tersebut pada buku besar ukuran folio. Lalu amplop tersebut dibuka dan dihitung berapa nilai uang dalam amplop. Kemudian ditulisnya sebuah angka serta tak lupa memberi angka sesuai nomor urut hadir pada amplop itu. Setelah itu amplop diulurkan pada pria di sebelahnya.

Pria yang satunya menutup kembali dengan plester bening yang telah disediakan lalu dimasukan pada kotak besar polos, seperti kotak suara pada saat pemilu. Sebuah mic diraihnya dan dia berkata, “Bu Malik dari Desa Tebuan hadir. Buwuhnya…”

Karuan saja aku dan rombongan jadi kikuk setelah melihat apa yang terjadi barusan. Sebelum tiba giliran di depan pria penerima tamu kami berbisik berunding bagaimana hadapi “tradisi seperti itu”. Bukan karena kuatir isi amplop kami tertelanjangi, bukan. Hanya saja kami jadi rikuh, tidak terbiasa.

Akhirnya tiba rombongan kami. Penerima tamu itu menyambutnya dengan senyum ramah-renyah. “Sampean siapa? Dari mana?”

Seniorku menjawab. “Saya Iqbal. Kami rombongan dari …. Kami teman dari mempelai pria.” Lalu seniorku mengulurkan amplop yang dibawanya. “Kalau boleh kami usul, bagaimana kalau Sampean tulis saja nama dan alamat kami, tapi kami mohon jangan ditulis jumlah uang yang di amplop itu. Kami sungkan saja, nilainya tak seberapa,” kata temanku dengan nada penuh permohonan dan merendah.

Pria menerima tamu itu mengangguk-angguk sembari tangannya meraba amplop yang diterimanya, seolah-olah sedang menaksir nilai uang buwuh itu. Aku tersenyum karena melihat apa yang tengah berlangsung.

“Begini, dengan dicatat tujuannya nanti siapa tahu Sampean punya hajatan apa saja dan kemanten ini bisa membalasnya, sesuai yang dicatat di sini.”

“Kami tidak mengharapkan balasan, Bapak. Kami sudah senang sudah diundang kemari dalam acara ini,” jawab seniorku dengan sopan.

“Baiklah, Bos,” jawab penerima tamu itu sepakat. Mungkin tidak semua tamu mau mengikuti apa yang jadi kebiasaan di lingkungan itu. Lalu dia melakukan tugasnya. Setelah semua dicatat nama rombongan kami, dia mempersilakan rombongan kami untuk menemui kedua mempelai dan menyebutkan satu persatu nama kami dengan suara mic yang cukup keras.

Ketika ada ketidakcocokan semua bisa dibicarakan baik-baik agar sama-sama sepakat. Dan kami pun cukup lega dengan apa yang kami putuskan dan segera lebur dengan suasana pesta pernikahan itu.

Menciptakan Karakter Terkenal Dari Karya Seni Kertas Yang Luar Biasa

John Ed De Vera adalah desainer multidisiplin yang berkreasi dalam dunia seni yang mengesankan dari Manila, Philipina, hanya dengan menggunakan alat sederhana seperti kertas dan gunting. Seni kertasnya memukau orang-orang, sebuah teknik yang rumit serta cara penggunaan efek bayangan, yang dibuat menumpuk beberapa lapis kertas lalu digabung menjadi satu.

Karya Seni Kertas ini setiap tahapan membutuhkan keahlian yang cermat. Setiap elemen dibuat pola terlebih dahulu di atas kertas, dipindahkan ke bagian yang lebih tebal yang dipotong dan disusun menjadi susunan warna-warni. Dari karakter komik hingga ikon budaya populer.

Menciptakan Karakter Terkenal Dari Karya Seni Kertas Yang Luar Biasa.
(sumber: instagram John Ed De Vera)

Sensasi Tulisan di Kaos Yang Buat Kita Ngakak

Sensasi Tulisan di Kaos Yang Buat Kita Ngakak. Kita sering melihat orang mengenakan kaos yang bergambar atau bertuliskan sesuatu yang kadang tidak pas dengan usianya atau tidak sesuai dengan gayanya. Salah pasang. Sebut saja Rasiyo, tukang becak langgananku, dia punya enam kaos dari beberapa partai politik. Dia mengenakan kaos kampanye ya seperti kaos lainnya, kaos non partai. Bukan berarti dia mengenakan kaos partai A lalu dia disangka pendukung partai tersebut. Setiap ada kampanye politik, pemilu adalah kesempatan untuk mendapat kaos gratis, karena beli kaos baru mahal baginya.

Atau kadang melihat kata-kata di sebuah kaos yang tidak nyambung dengan gaya pemakainya. Asal pakai kaos itu tanpa mengetahui apa arti kalimat pada kaos yang dikenakan. Yang penting cocok warna dan nyaman. Akibatnya bila kita melihatnya menjadi sebuah lelucon konyol. Disamping juga menimbulkan rasa kasihan pada yang mengenakannya, dia jadi bahan tertawaan karena dia mengenakan sesuatu yang tidak dipahaminya. Pilih yang benar dan bagus, ya tentang Tulisan di Kaos Yang Buat Kita Ngakak.