Mengapa Awan Berwarna Putih? Dan Mengapa Pula Awan Hujan Berwarna Hitam?

Mengapa awan berwarna putih? Dan mengapa pula awan hujan berwarna hitam? Masalah warna awan terkait dengan besar butir-butir air di dalamnya. Memang begitulah awan: kumpulan butir-butir air yang sangat kecil. Butir-butir air itu begitu kecil sehingga karena mengalami benturan terus-menerus oleh molekul-molekul udara mereka tetap bergantung di udara dan tidak terpengaruh oleh gravitasi—sampai saat hujan. Butir-butir itu terus menguap dan mengembun. Itu sebabnya awan senantiasa berubah bentuk.

Coba saja. Pada hari ketika awan putih melayang-layang di langit yang biru jernih, berbaringlah di rerumputan sambil mengamatinya beberapa saat. Anda akan melihat awan-awan itu terus berubah bentuk searah dengan hembusan angin. Butir-butir air di bagian pinggir terus menguap namun kemudian mengembun lagi di tempat lain. Itu sebabnya garis tepi awan terus berubah.

Butir-butir air dalam sebuah awan putih seperti bola-bola kristal sangat kecil. Jadi, mereka memantulkan dan membuyarkan cahaya ke semua arah. Seperti air dalam bentuk-bentuk lain—es dan salju—mereka memantulkan dan membuyarkan semua pan jang gelombang (warna) cahaya secara adil, maka cahaya matahari yang sampai ke mata kita tetap berw arna putih. Apabila butir-butirnya lebih kecil, lebih kecil daripada panjang gelombang cahaya, awan itu akan ikut berwarna biru seperti langit.

Sementara itu, awan hujan atau awan badai, seperti yang Anda harapk an, sarat dengan air, dan menunggu peluang yang tepat untuk mengacaukan piknik Anda. Butir-butir air dalam awan tersebut begitu tebal sehingga menghalangi cahaya dan matahani, maka awan rersebut relatif tampak gelap dibanding langit yang cerah. Bagaimanapun, sesungguhnya  awan itu tidak hitam, melainkan hanya bayangannya yang hitam.

(Ditulis ulang dari buku karya Robert L. Wolke berjudul “What Einstein Didn’t Know”)

Baca ini… Bagaimana Warna Mempengaruhi Anak-anak (2)

Baca ini… Kenali Sifat dan Pengaruh Warna pada Diri Kita (4)

Baca ini… Gaya Busana ala Mantel Puffer Musim Dingin Klasik Menjuntai Dramatis Karya Pierpaolo Piccioli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *