Kasih Ibu Sepanjang Jalan Pilihan Legislatif

Pilihan Legislatif, bagi caleg tidak hanya mengatur strategi keuangan tapi juga strategi caleg untuk mendapat simpati dari rakyat agar mendapat dukungan untuk memilih dirinya. Seperti cerita tentang mencari dukungan suara, beberapa waktu lalu.

Selepas sholat magrib, sebuah ketukan pada pintu utama ruang tamu terdengar. Aku segera bangkit dari dudukku di ruang musholla keluarga. Bapak bersama ibuku tengah melanjutkan membaca doa setelah sholat.

Kubuka pintu utama dan segera kukenali siapa yang bertamu di petang itu. Seorang ibu berumur enam puluh limaan menyapaku dengan salam dan menyebut namaku. Kupersilakan ibu itu, yang sebenarnya kami pernah menjadi tetangga dekat. Dua tahun lalu dia pindah rumah, karena rumahnya dijual untuk menutupi kebutuhan hidupnya. Setelah basa-basi sebentar tetanggaku itu kutinggal untuk memanggil bapakku. Kemudian bapakku dan ibuku menemui ibu itu, sedangkan aku membuatkan minuman dan menyediakan camilan.

Setelah menyuguhan minuman dan camilan untuk tamu kami, aku ke ruang tengah yang terpisah oleh sebuah sekat dari kayu. Karena penasaran aku siagakan telingaku untuk mendengar percakapan tersebut. Penasaran sih, karena kami jarang bertemu apalagi bu itu datang sendirian.

“Yu Suryani ke sini sama siapa?” tanya ibuku.

“Naik apa? Becakkah?” tanya bapakku heran.

“Jalan kaki…” katanya sembari meneguk teh hangat yang kubuatkan tadi.

“Lhooo….” respon bapak dan ibuku bersamaan.

“Mas ke mana, Yu Sur?”

“Bapaknya anak-anak lagi keluar. Yusuf, anakku yang nomor tiga, pergi keluar kota sama istrinya. Aku sejak sore keliling ke rumah teman-temanku. Sendirian.”

“Bagaimana ini toh, Yu,” tanya ibuku gak mengerti. “Apa mereka gak sibuk nyari sampean sekarang?”

“Aku sudah pamitan sama bapaknya anak-anak, Dik Tati.”

“Ya ampun,Yu…Yu,” seru ibuku tidak mengerti. Ibu itu umurnya beda tipis dengan ibuku. Selisih tiga tahunan. “Bagaimana ini ceritanya.”

“Begini lho, Dik Tati maksud kedatangaku ke sini. Sampean ingat sama anak bungsuku, Fika. Nah, dia ini nyalon mau jadi anggota DPR sini. Lha maksud kedatanganku ini mau minta dukungan sampean untuk beri dia dukungan suara pas pemilu nanti. Tolong pilih dia.”

Jadi kedatangan ibu itu ke rumah kami untuk minta dukungan suara untuk anaknnya yang mau nyalon jadi anggota DPR kotaku. Lha..anaknya yang nyalon itu kemana?

Berikutnya yang ada hanya keheningan. Beberapa menit kemudian bapakku yang membuka bicara untuk menanggapinya. Dengan suara penuh pertimbangan dan sedikit hati-hati bicara, bapakku berkata, “Yu Suryani…kami ini kan bukan pejabat, aku sudah pensiun. Kami ini wong biasa, kok dimintai seperti ini. Kalaupun mendukung atau kami memilih dia, Fika, dapatnya dua suara. Anakku yang bungsu tadi, ya pastinya punya pilihannya sendiri, kami tidak bisa memaksa dia.”

“Aku mohon bantuannya, Dik. Sungguh. Ini penyalonannya yang kedua, yang pertama kalah. Uang terkuras habis.”

Hening lagi.

“Yo wis, Yu Suryani…Kami gak janji. Apa kata nanti sudah, saat coblosan.”

“Sungguh lho, Dik. Aku butuh bantuannya.” Katanya sembari mengambil kue yang diulurkan ibuku kepadanya. Dimakannya perlahan-lahan. “Kali ini aku tidak bisa bantu dia dengan dana, tapi dengan cara seperti ini mungkin aku bisa membantunya untuk mewujudkan keiinginannya itu. Mudah-mudahan dia menang di pemilu kali ini. Kita ini sudah tua kan, Dik, apa yang kita harapkan lagi selain kebahagian dan keberhasilan anak-anak kita, berhasil dalam mewujudkan keiinginan baiknya.”

Kali ini kedua orangtuaku tidak berkomentar. Pastilah berat memberikan dukungan pada anaknya yang akan nyalon jadi anggota DPR, meski itu hanya sebuah suara, bukan bantuan dana yang diminta. Karena kami sudah tahu benar sikap dan tingkah anak-anak ibu itu, dan terutama Fika.

Fika terkenal gaya bicaranya yang beraroma kelas tinggi, tapi tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Kadang aku sendiri malas menanggapi segala percakapannya, bila kami sedang bertemu. Kurang ramah-sapa pada tetangga sekitar. Kalau ada kerja bakti mingguan, mana ada keluarganya termasuk ibu itu muncul ikut gabung bersama kami untuk kerja bakti bersih-bersih lingkungan. Kurang supel, kurang akrab, sama tetangga sendiri. Banyak tetangga yang membicarakannya negatifnya daripada positifnya.

“Tolong bantu aku, ya, Dik..” pintanya dengan nada memelas.

Sepertinya ibuku mulai berkurang kesabarannya. “Ya sudah, Yu Suryani, nanti kami dukung dia.”

Ibu itu terdengar gembira dengan jawaban ibuku. “Alhamdulillah. Terima kasih, ya, Dik Tati, Dik Fajar,” kata ibu itu sembari menghabiskan sisa minumannya. “Aku mau pulang saja. Maaf, sudah ganggu sampean berdua.”

Bapakku mengulurkan sejumlah uang dari saku celana panjangnya namun ibu itu menolaknya. “Dukungan sampean berdua lebih berarti bagi kami.”

“Itu urusan nanti, yang penting terimalah ini untuk ongkos naik becak,” bapakku sedikit memaksa.

Ibu itu lebih bersihkukuh menolak pemberian bapakku. “Sudahlah, Dik Fajar. Aku lega dapat dukungan sampean berdua. Itu yang lebih berarti.” Katanya dengan suara serak, mata berkaca-kaca. Baginya sebuah dukungan suara di pemillu teramatlah berarti, terutama untuk anaknya.

Ibuku yang mencari jalan keluar, membujuknya. “Begini saja, Yu Suryani. Biar Yu Suryani diantar pulang anakku saja. Yu Suryani sudah keliling sejak sore tadi kan,  pastinya capai. Yu Suryani kudu sehat, istirahat yang banyak. Biar kuat keliling bantu Fika cari dukungan. Sekarang langsung pulang saja, gak usah keliling. Besuk dilanjutkan lagi, ya. Jaga kesehatan, ya, Yu Suryani.”

Aku mengintip dari celah-celah sekat.

Ibu itu memeluk ibuku, terharu. Air matanya merembes perlahan. Dia merasa berterima kasih karena tetangga yang telah lama berpisah masih berbaik hati mau membantunya. Ibuku akhirnya ikut nangis juga, seolah dirinya adalah ibu itu. Empatinya terbit. 

Bapak menyuruhku mengatarkan ibu itu pulang ke rumahnya dengan motorkku.

Setelah kedatangan tetanggaku itu, bapak menyarankan agar keluarganya memenuhi janji Bu Suryani, memilih anaknya dalam pemilihan legislatif. “Kalau dia menang, kita akan ceritakan pada anaknya itu, bagaimana ibunya mencari dukungan. Agar dia paham bantuan orang tuanya jangan disia-siakan. Biar dia jadi wakil rakyat yang penuh pengabdian.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *