Kalori, Kalori, Kalori

Kalori. Di setiap kemasan makanan yang Anda beli ada informasi tentang jumlah Kalori yang disajikan. Kita sering sebut namanya tapi belum paham apa itu Kalori. Kalori adalah sejumlah energi. Tetapi bagaimana cara mereka menentukan banyaknya energi yang akan diberikan oleh suatu makanan kepada Anda?

Ada baiknya Anda tidak melihat energi makanan sebagai energi yang hanya digunakan untuk olahraga dan berlari-lari. Tubuh kita menggunakan energi yang diperoleh dari makanan untuk :

– untuk bergerak,
– untuk mencerna dan metabolisme makanan itu sendiri
– untuk memperbaiki atau mengganti sel-sel tubuh yang mati atau rusak setiap hari,
– untuk menjalankan proses pertumbuhan,
– dan untuk menjadi bahan bakar bagi ribuan reaksi kimia sangat kompleks agar segalanya berjalan serba seimbang dan benar.

Sebagaimana terbukti dan miliaran rupiah yang ditanamkan oleh pengusaha jeli dalam industri penurunan berat badan dan diet, tiap orang memakai Kalori dalam makanan mereka dengan cara sangat berbeda-beda.
Satu Kalori, sebagai istilah yang digunakan oleh pakar gizi, adalah jumlah energi yang diperlukan untuk menaikkan temperatur seperseribu gram air sebanyak satu derajat Celsius.

Sementara itu, kalori (dengan k kecil) menurut orang kimia sama dengan seperseribu Kalori (dengan K besar) versi pakar gizi, tetapi umumnya Anda tidak pernah menemukan kalori dengan K besar.
Orang sering berkata bahwa olahraga “membakar Kalori.” Tentu saja ini pernyataan yang kurang pas. Energi tidak terbakar; Anda tidak dapat menyulutnya dengan api.

Akan tetapi sebagaimana mudah dipelajani oleh pemula mana pun, Anda dapat membakar makanan. Energi dalam makanan dilepaskan ketika makanan terbakar, sama seperti energi dalam batu bara dilepaskan ketika kita membakarnya. Maka begitulah cara mereka menentukan kandungan Kalori dalam sebuah makanan: Mereka betul-betul membakarnya kemudian mengukur berapa Kalori panas yang dilepaskan dalam proses tersebut.
Ketika kita membakar batu bara, batu bara plus oksigen menghasilkan energi dan karbon dioksida.

Pakar gizi menaruh sejumlah tertentu makanan yang telah dikeringkan ke dalam sebuah ruang baja yang diisi dengan oksigen bertekanan tinggi, diisi dengan air dan dimasak menggunakan listrik, dan selanjutnya mereka mengukur kenaikan temperatur air. Dari situ mereka dapat memperhitungkan jumlah Kalori yang dilepaskan: untuk tiap kilogram air, tiap kenaikan temperatur sebesar satu derajat Celsius mengandung arti bahwa panas satu Kalori telah dilepaskan.
Setelah bereksperimen dengan setiap makanan yang ada, orang belakangan sadar bahwa setiap gram protein menghasilkan Kalori sebanyak kurang lebih sama, tidak peduli jenis.proteinnya atau terdapat dalam makanan apa.

Begitu pula, tubuh kira membakar makanan—kita menyebutnya metabolisme—walaupun jauh lebih lambat, dan untungnya tanpa api. Akan tetapi hasil akhirnya keseluruhan sama: makanan plus oksigen rnenghasilkan energi dan karbon dioksida. Yang mengagumkan, besar energi yang kita peroleh melalui metabolisme tepat sama dengan kalau kita membakarnya menggunakan api.

Memang agak mngejutkan bahwa ketika makan dan oksigen diubah menjadi energi dan karbondioksida, makanan itu tidak peduli dengan cara konversinya, entah melalui metabolisme yang lambat dalam tubuh manusia atau lewat peledakan dalam wadah baja di laboratorium. Energi yang dilepaskan—banyak Kalori—sama, manapun cara yang ditempuh.
Anda mungkin masih ingat prinsip umum dalam ilmu kimia berikut: Dalam setiap proses kimia, jika Anda mulai dengan bahan kimia dalam kondisi A dan berakhir dengan bahan kimia dalam kondisi B, perubahan energi kimiawi secara keseluruhan akan sama, tidak peduli jalan yang dipilih untuk pergi dan A ke B. Kita dapat memadankan banyak energi dengan posisi vertikal: makin banyak energi, makin tinggi posisi vertikal. Jika Anda mulai dan sebuah bukit dengan ketinggian A dan benjalan kaki ke puncak bukit dengan ketinggian B, berarti Anda mengubah posisi vertikal (kandungan energi potensial Anda) sebanyak B minus A, tidak peduli Anda mengambil jalan memutar atau berkelok-kelok dan A ke B.

Hal yang sama berlaku untuk lemak dan karbohidrat. Mereka menemukan bahwa protein dan karbohidrat mengandung energi potensial sebanyak empat Kalori dalam setiap gram, sedangkan lemak mengandung enam Kalori per gram. Maka sekarang, orang tidak perlu membakar setiap jenis makanan. Orang kimia cukup menganalisis kandungan protein, lemak, dan karbohidrat pada tiap makanan kemudian menghitung jumlah Kalori keseluruhan dari situ.Tentu saja orang masih membakar makanan, kambing guling, misaln ya, tetapi bukan untuk menghitung Kalorinya.

(Ditulis ulang dari buku karya Robert L. Wolke berjudul “What Einstein Didn’t Know”)

Baca juga… Perbedaan Merebus Kentang dan Telur

Baca juga… Inilah Alasan Mengapa Kaleng Minuman Bersoda Tidak Harus Dihancurkan

Baca juga…. Buat Meme Uniq untuk Promosi Ampuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *