Festival Bakar Tongkang Bagansiapiapi 2019

Festival Bakar Tongkang Bagansiapiapi 2019. Pada tanggal 28 hingga 30 Juni 2019 kota Bagansiapiapi, ibu kota Kabupaten Rokan Hilir di Provinsi Riau, mengadakan festival yang cukup besar dan meriah yang setiap tahun diadakan. Festival itu diberi nama festival Bakar Tongkang, yang artinya membakar Kapal (kapal terakhir).

Tradisi kuno dan unik kembali digelar tahun ini pada hari ke-16 bulan ke-5 menurut kalender Cina. Tradisi ini juga dikenal sebagai Go Gek Cap Lak (dari kata Go berarti 5 dan Cap Lak yang berarti ke-16)

Festival Bakar Tongkang atau tradisi Go Gek Cap Lak berawal dari tahun 1826. Tradisi ini timbul ketika para imigran Cina pertama kali menginjakkan kaki di daerah di Sumatera dan kemudian memberikan nama pada daerah tersebut yang sekarang dikenal sebagai Bagansiapi-api.

Perlu diketahui, bahwa leluhur Bagansiapiapi adalah orang Tang-lang keturunan Hokkien asalnya dari Distrik Tong’an (Tang Ua) di Xiamen, Provinsi Fujian, di Cina Selatan. Mereka meninggalkan tanah airnya dengan kapal yang memiliki pangkalan datar yang biasanya digunakan untuk mengangkut pasir dan mineral yang ditambang. Yang lebih dikenal kemudian sebagai ‘tongkang’.

Awalnya, ada 3 kapal tongkang dalam ekspedisi itu, namun hanya ada satu kapal yang mampu mencapai pantai Sumatra. Hanya kapal yang dipimpin oleh Ang Mie Kui berhasil sampai di pantai Riau karena mengikuti lampu kunang-kunang yang berkedip-kedip yang disebut oleh penduduk setempat sebagai ‘siapi-api’. Ketika sampai mereka memutuskan untuk menetap di tanah tak berpenghuni yang terdiri dari hutan, rawa-rawa dan padang rumput, yang akhirnya diberi nama Bagansiapiapi atau ‘Tanah Kunang-kunang’.  Mereka berjanji untuk tak akan pernah kembali ke tanah air mereka. Para migran ini membakar tongkang tersebut dan dengan demikian mereka menjadi nenek moyang kelompok etnis Cina di daerah tersebut.

pekerja sedang menyiapkan hio raksasa untuk Festival Bakar Tongkang

Dari situlah lahir tradisi Bakar Tongkang yang setiap tahun diadakan di Bagansiapiapi.

Selama festival tersebut banyak tahapan acaranya, dimulai dengan ritual dan doa oleh para peserta di kuil utama, diikuti kemudian prosesi budaya, berbagai atraksi oriental seperti Barongsai (Tarian Singa), serta panggung hiburan yang disiapkan untuk para pemain yang berasal dari Medan, Singkawang (Kalimantan Barat) serta dari negara tetangga seperti Malaysia, Taiwan dan Singapura yang turut meramaikan festival itu dengan membawakan lagu-lagu Hokkien.

Puncak festival tersebut adalah saat pembakaran replika kapal besar. Masyarakat yang berkerumun yang tak jauh di sekitar replika kapal besar itu menunggu-nunggu di mana tiang utama kapal besar akan jatuh.

Warga setempat percaya bahwa arah jatuhnya tiang utama kapal akan menentukan nasib mereka di tahun mendatang, apakah jatuhnya menghadap ke laut atau menghadap ke pedalaman.

Jika tiang roboh ke laut, mereka percaya bahwa keberuntungan berasal dari laut, tetapi ketika tiang robohnya di darat, maka keberuntungan tahun itu sebagian besar berasal dari darat.

Replika kapal dibuat berukuran hingga lebar 1,7 meter untuk pajangnya 8,5 meter. Adapun berat replika kapal itu sampai 400Kg. 

Kapal replika itu disimpan selama satu malam di Kuil Eng Hok King, diberkati lalu dibawa dalam prosesi melalui kota menuju ke lokasi di mana ia akan dibakar. 

Prosesi Tongkang juga melibatkan atraksi Tan Ki, dimana sejumlah orang menampilkan kemampuan fisik mereka yang luar biasa dengan menusuk diri mereka dengan pisau atau tombak tajam, namun tetap tidak terluka. Mirip dengan tradisi Tatung di Singkawang di Kalimantan Barat.

Sesampainya di lokasi ribuan potongan kertas kuning berisi doa mengitari replika kapal, membawa doa-doa dari orang-orang untuk leluhur mereka, sebelum kapal itu akhirnya dibakar.

Catatan tambahan, Kota Bagansiapiapi bisa dicapai melalui darat dalam waktu sekitar 6-7 jam perjalanan atau sekitar 350km dari Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau. Di samping itu, Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru mampu menampung pesawat-pesawat dari bandara Indonesia lainnya, juga dari negera-negera tetangga.

(sumber: pedomanwisata.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *