Fakta Anak Berkebutuhan Khusus Autis

Fakta anak berkebutuhan khusus autis. Setiap tanggal 2 April diperingati sebagai Hari Kesadaran Autisme Sedunia atau World Autism Awareness Day‘. Peringatan itu ditetapkan oleh PBB pada tahun  2007 sebagai momen menumbuhkan kesadaran dan kepedulian masyarakat dunia dalam mendukung para penyandang autisme dan menentang diskriminasi terhadap mereka.

Karena setiap tahun kian bertambah anak penyandang autis untuk itu masyarakat perlu mengetahui tentang autis ini, agar masyarakat lebih paham mengenai autis ini.

Fakta tentang autis yang paling dasar dan harus diketahui

1. Anak autis bisa didiagnosis sejak dini

Kenyataan tentang penyandang autis ternyata tidak sedikit anak berusia di bawah 18 bulan sudah didianogsis memiliki ciri autis (ASD), namun tidak jarang pula keadaan anak autis didianogsis adalah anak yang berusia lebih dari 24 bulan atau 2 tahun.

Untuk mengenali ciri-ciri seseorang mengidap autis atau tidak selama ini tidak ada tes medis yang dilakukan. Dokter anak umumnya memeriksa tingkah-laku anak melalui perkembangannya sembari mengecek lewat tes neurologis, penglihatan dan pendengarannya untuk mengetahui ada gangguan autis atau tidak.

2. Gejala autis berbeda-beda

Gejala autise pada tiap orang tidaklah sama, ada yang gejalanya parah dan ada yang tidak. Umumnya gejala autis dilihat dari perkembangan dalam tiga aspek yaitu kualitas kemampuan interaksi sosial dan emosional, kualitas yang kurang dalam kemampuan komunikasi timbal balik, dan minat yang terbatas disertai gerakan-gerakan berulang tanpa tujuan. Ciri-ciri tersebut sudah terlihat sebelum anak berumur 3 tahun

Adapun ciri pada autis tersebut adalah sebagai berikut:

a. Dalam komunikasi

– terlambat bicara, tidak ada usaha untuk berkomunikasi dengan gerak dan mimik
– meracau dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti orang lain
– sering mengulang apa yang dikatakan orang lain
– meniru kalimat-kalimat iklan atau nyanyian tanpa mengerti
– bicara tidak dipakai untuk komunikasi
– bila kata-kata telah diucapkan, ia tidak mengerti artinya
– tidak memahami pembicaraab orang lain
– menarik tangan orang lain bila menginginkan sesuatu

b. Dalam interaksi sosial
– menghindari atau menolak kontak mata
– tidak mau menengok bila dipanggil
– lebih asik main sendiri
– bila diajak main malah menjauh
– tidak dapat merasakan empati

c. Dalam tingkah laku
– asyik main sendiri
– tidak acuh terhadap lingkungan
– tidak mau diatur, semaunya
– menyakiti diri
– melamun, bengong dengan tatapan mata kosong
– kelekatan pada benda tertentu
– tingkah laku tidak terarah, mondar mandir tanpa tujuan, lari-lari, manjat-manjat, berputar-putar, melompat-lompat, mengepak-ngepak tangan, berteriak-teriak, berjalan berjinjit-jinjit.

d. Dalam emosi
– rasa takut terhadap objek yang sebenarnya tidak menakutkan
– tertawa, menangis, marah-marah sendiri tanpa sebab
– tidak dapat mengendalikan emosi; ngamuk bila tidak mendapatkan keinginannya

e. Dalam sensoris atau penginderaan
– menjilat-jilat benda
– mencium benda-benda atau makanan
– menutup telinga bila mendengar suara keras dengan nada tertentu
– tidak suka memakai baju dengan bahan yang kasar

Ciri-ciri tersebut di atas sering juga disertai dengan adanya ketidak mampuan untuk bermain, seperti: tidak menggunakan mainan sesuai dengan fungsinya,kurang mampu bermain spontan dan imjinatif, tidak mampu meniru orang lain, dan sulit bermain pura-pura. Masalah makan seperti: sangat pemilih dalam hal menu makanannya, cenderung ada maslah dalam pecernaan atau sangat terbatas asupannya, dan masalah tidur seperti: sulit tidur atau terbangun tengah malam dan berbagai permasalahan lainnya.

3. Banyak anak laki-laki yang mengidap autis

Fakta tentang autis yang ketiga ini, bahwa lebih banyak anak laki-laki sebagai penyandang autis dibanding anak perempuan. Selain itu ditemukan mitos bahwa anak laki-laki dari ras kulit putih-lah yang lebih sering mengidap autis, namun itu tidak terbukti benar. Autis tidak mengenal ras, suku dan usia.

4. Vaksin atau imunisasi bukan penyebab autisme

Banyak mitos yang beredar di masyarakat bahwa autis dikarenakan mendapatkan suntik vaksin atau imunisasi. Namun, itu tidak benar. Thimerosal adalah bahan vaksin lain yang pernah dianggap meningkatkan risiko autisme. Akan tetapi setelah diadakan penelitian tentang bahan vaksin ini tidak ditemukan bukti pasti antara vaksin dan autisme saling berkaitan. Bahkan, penelitian lanjutan lainnya secara konsisten malah menemukan vaksin tersebut aman untuk kesehatan anak. dan tidak ada hubungannya dengan autisme.

Demikian sekilas fakta anak berkebutuhan khusus autis.

(sumber: hellosehat.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *