Cerita Dibalik Pislen Lumajang

Cerita dibalik pislen Lumajang . Mampir di lapak Vieka adalah dari ketidaksengajaan. Lapak yang berukuran kira-kira 3 m x 2,5 m dan beratap asbes itu sesungguhnya sebagai tempat bertanya tentang siapa pemilik mobil jeep unik yang tak jauh dari lapak Vieka, karena saat itu pemilik yang akan saya temui sedang tidak ada di lapaknya.  

Karena ada tulisan pislen di gerobak jualannya membuat saya jadi penasaran maka pembicaraan tentang produk Vieka pun berlanjut dan cukup lama. Jadinya ngobras (ngobrol santai, ngobrol suweh). Hehehe.

Pemilik lapak Vieka adalah Yani, seorang wanita yang ramah dan lugas saat menjelaskan usahanya dan apa saja jualannya. Sembari menggoreng pesanan saya, Yani menyeritakan awal ia berjualan produk yang kini tersaji di lapak yang beralamat di jalan Ahmad Yani, depan persis gedung SMA Negeri 1 Lumajang.

Produk pertama yang Yani buat adalah pislen, singkatan dari pisang onlen (online). Atau bisa dibilang pislen ini adalah pisang goreng yang dijual online. Meksipun Yani juga menjualnya secara offline, yakni pada sebuah lapak tak jauh dari stadion Semeru Lumajang.

Pislen ini terlahir dari ide membuat penganan untuk anaknya yang mempunyai masalah kesehatan yang menyita perhatiannya. Masalah kesehatan anaknya yang masih sekolah dasar itu  akibat dari jajanan ‘sembarangan’. Saran dari dokter yang menangani kesehatan anaknya itu, agar Yani membuat penganan sendiri untuk anaknya, dan mengurangi jajanan sembarangan. Terlebih karena anak perempuannya itu suka gorengan maka mendadak muncullah ide untuk membuat pisang goreng yang khas. Anak perempuannya menyukai hasil olahannya itu. Dan perlahan-lahan kesehatan anaknya mulai membaik.

Dari situlah ide hasil olahan pisang gorengnya untuk dibisniskan. Yani mulai menjual pisang goreng khasnya itu  awalnya ia tawarkan lewat status serta share di group WA-nya (081081235074740). Serta lewat akun facebook, yakni  Yani Vieka@facebook.com. Dionlinekan, onlen istilahnya. Akhirnya pisang goreng olahannya diberi nama pislen.

Karena keluhan pelanggan yang beli pislennya yang mesti masuk gang menuju rumahnya maka Yani buka lapak di depan gedung sekolah SMA Negeri 1 Lumajang.  Dan sudah enam bulan lebih Yani menempati lapaknya tersebut. Oya, dalam menjalankan usahanya ini Yani dibantu  suaminya.

Tidak hanya hanya pislen yang lahir dari kreasinya, menyusul kemudian tahu walek yang punya rasa kekhasan tersendiri. Lanjut kemudian produk olahannya yang lain adalah nanglen (nangka onlen),  naslen (nanas onlen), rujak erok-erok, es lilin varian buah asli. Ada satu lagi, bakso sebesar kelereng juga hasil olahannya.

Saat saya berbincang-bincang dengan Yani, saya pesan pislen dan tahu walek, belum semua produknya saya coba, mungkin lain kali. Setelah menikmatinya di rumah, saya cenderung menyukai tahu waleknya. Saya sangat suka tahu waleknya karena ada sayurnya, bumbunya imbang dan tidak eneg. Juga, kekenyalan tahu waleknya yang pas.

Dari dua produk olahan Vieka yang saya beli, produk Vieka milik Yani adalah produk yang bagus, higienis.

Saya punya kecenderungan yang jelek bila makan sesuatu yang ada unsur kimia yang berlebih dalam suatu produk makanan olahan, ada efek langsung yang saya rasakan. Semisal bila ada zat pengawet yang berlebih dalam makanan, tidak sampai 24 jam tenggorokan saya sakit untuk menelan. Begitu pula bila ada kandungan MSG atau zat penguat rasa yang banyak efeknya setelah makan rasanya, maaf,  mau muntah karena eneg dan rongga mulut terasa kering bawaannya haus saja.

Setelah saya nikmati dua produk makanan olahan Yani dan tidak berdampak seperti yang saya ceritakan tersebut  bisa dibilang produk olahan Yani aman dan baik untuk kesehatan. Higienis.

Terlebih lagi dari cerita Yani, pelanggannya adalah orang-orang dari kalangan berprofesi di bidang kesehatan juga. Tentu Yani sangat menjaga kualitas produk makanan olahannya.

Jadi, tunggu apalagi, hubungi WA Yani buat pesan produk olahannya. Jangan sampai kehabisan, lho! Cerita dibalik pislen Lumajang.

Penulis :  KSmartini Muchdor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *