Ular Serakah Berjuang untuk Menelan Kadal

Ular serakah berjuang untuk menelan kadal. Seekor ular ini memangsa seekor kadal (Varanus niloticus). Ular pohon emas menerkam reptil panjang sekitar 60 cm. Reptil tersebut awalnya tidak menyurigai kehadiran ular tersebut yang tengah berada di pohon besar di hutan Lopburi, Thailand tengah, pada 21 April.

Rekaman menunjukkan bagaimana ular melilit korbannya, berjuang untuk menelan reptil itu. Kedua hewan itu akhirnya jatuh ke tanah, ketika ular pohon terus mencoba menelan seluruh kadal.

Pejalan kaki, Nang Ploy, yang menangkap adegan itu saat berjalan. Dia berkata: “Sepertinya ular yang akhirnya memenangkan pertempuran. Ada 20 menit ular itu berusaha sekuat tenaganya menelan kadal itu selama sekitar 20 menit. Ketika saya meninggalkan kadal sudah tak bernyawa. Aku melanjutkan perjalananku. Tetapi sewaktu aku kembali sekitar dua jam kemudian, keduanya sudah tidak ada. Saya pikir ular telah menelan kadal pada saat itu.”

Lebih lengkap tonton video berikut…

(sumber : msn.com)

Baca juga… Peringatan Hari Bumi 22 April 2019, Ikan Raja Laut

Baca juga… Peringatan Hari Bumi 22 April 2019, Paedophryne Amauensis

Baca juga.. Lucu! Karena Tidak Terima Caleg yang Didukung Kalah Pemilu

Peringatan Hari Bumi 22 April 2019, Ekor Pegas Gua Dalam

Peringatan Hari Bumi 22 April 2019, Ekor Pegas Gua Dalam. Tanggal 22 April 2019 Google merilis google doodle sebagai persembahan peringatan Hari Bumi Sedunia. Google doodle kali ini tampilannya berupa video animasi yang bercerita tentang hewan dan tumbuhan yang terancam kepunahannya.

Hewan yang terancam kepunahannya adalah: burung Albatros, katak mikro paedophryne amauensis , ikan raja laut, ekor pegas gua dalam   

Tanaman yang tergolong yang harus dilindungi: redwood pesisir, teratai raksasa amazon

Ekor Pegas Gua Dalam

Collembola atau springtails, garis keturunan hexapods yang tidak lagi menjadi bagian dari kelas insecta, dan ada di mana-mana. Kata collembola dari bahasa Yunani, colle yang artinya lem, sedangkan embolon artinya piston atau pasak. Collembola bisa ditemukan terutama di tanah, tetapi ada juga ada di sampah atau pada bunga. Tentu, ukuran mereka kecil (beberapa milimeter), akan tetapi jika kita mau bersusah-payah untuk melihat ke habitatnya, maka akan kita temukan dunia yang luar biasa dari keanekaragaman bentuk dan warna. Springtails memainkan peran penting dalam kesuburannya, dan keberadaannya, ketiadaannya atau komposisi komunitasnya memberikan panduan tentang kualitas lingkungan: mereka adalah bio-indikator yang berharga.

Sebagai tambahan, video ini menunjukkan perilaku Collembola yang difilmkan di berbagai habitat (tanah hutan, padang rumput, dan kolam alami). Rekaman dalam full hd dilakukan dengan menggunakan 2 refleks hibrida digital CANON 7 D dan CANON 5 D MKIII – lensa yang digunakan: CANON MPE – 65 mm – 100 mm makro USM dan berbagai aksesori telah digunakan untuk memotret urutan.

Tonton video ini karena mengasyikan…

(sumber : goole seach, youtube)

Baca juga…. Google Doodle 17 April 2019 Menampilkan Gymnic Pemilihan Umum Serentak

Baca juga… Hedwig Kohn, Perintis Fisika Wanita

Baca juga…Kerja Mesin Pembuat Salju

Peringatan Hari Bumi 22 April 2019, Ikan Raja Laut

Peringatan Hari Bumi 22 April 2019, Ikan Raja Laut. Tanggal 22 April 2019 Google merilis google doodle sebagai persembahan peringatan Hari Bumi Sedunia. Google doodle kali ini tampilannya berupa video animasi yang bercerita tentang hewan dan tumbuhan yang terancam kepunahannya.

Hewan yang terancam kepunahannya adalah: burung Albatros, katak mikro paedophryne amauensis , ikan raja laut, ekor pegas gua dalam   

Tanaman yang tergolong yang harus dilindungi: redwood pesisir, teratai raksasa amazon

Ikan Raja Laut

Ikan Raja Laut Ini merupakan nenek moyang jenis ikan masa kini. Namun jika ingin merasakan langsung bagaimana rupa dan fisik ikan raja laut tersebut kunjungi ke gedung Zoologi, Pusat Penelitian Biologi LIPI di Cibinong, Kabupten Bogor.

Ikan raja laut diperkirakan keberadaannya 400 juta tahun yang lalu, coelacanth nama yang lebih dikenal. Nama coelacanth sendiri berasal dari kata Yunani yang berarti coelia (rongga), dan acanthos (duri), yang berarti ikan dengan duri berongga.

Pada 1998 seekor ikan coelacanth tertangkap nelayan di Sulawesi Utara, tepatnya di perairan Manado Tua,. Bagi para nelayan lokal Ikan ini dikenal akrab sejak lama, namun keberadaannya belum diketahui oleh dunia ilmu pengetahuan. Ikan raja laut itu kemudian dikirim kepada seorang peneliti Amerika, Mark Edmann,  yang hidup di Manado. Bersama dua koleganya, Moh. Kasim Moosa dari LIPI dan R.L. Caldwell,  Mark kemudian menerbitkan penemuannya di majalah Nature, 1998, sebuah majalah ilmiah..

Beberapa jenis Latimeria hidup pada kedalaman laut antara 150 – 2000 m, suhu sekitar 18o C. Jenis Latimeria ini suka lereng-lereng vulkanis serta bergua lava. Sedangkan siang hari ikan ini cenderung menyukai tinggal di gua dengan cara berkelompok. Dalam satu kelompok kecil ada kira-kira 14 ekor.

Saat malam ikan ini akan keluar mengikuti jalannya arus buat cari makan. Latimeria termasuk ikan predator; makanannya seperti  ikan-ikan kecil yang hidup di dasar laut dan kolom-kolom pertengahan. Karena ikan raja laut mempunyai susunan saluran pencernaannya yang berdinding berlipat-lipat.dan tebal.

Ikan ini mendapat sebutan raja laut dan mempunyai tampang garang namun aslinya ikan coelacanth ikan  pemalas. Mungkin itu dikarenakan tubuh yang tegap sehingga gerak renangnya jadi lambat. Meskipun memiliki sirip yang berbentuk tonjolan daging yang seerupa tangan dan kaki, namun ikan ini tidak dapat berjalan di dasar perairan. Namun ketika urusan berenang, kedua sirip perut dan dadanya menampakan gerakan seperti langkah kuda yang berjalan perlahan. Selain itu, ikan raja laut terkadang menunggingkan ttubuh ke dasar perairan gaya tegak serta moncongnya menyentuh dasar perairan. Dalam kondisi seperti ini sirip ekornya bergerak dan berputar dalam keadaan menyiku terhadap tubuhnya.

Ikan raja di laut termasuk golongan ikan yang mengalami pembuahan dalam tubuh serta melahirkan anaknya. Pola pembiakan ini tidaklah sama dengan beberapa jenis ikan pada umumnya, dimana dalam pembuahan dilakukan di luar tubuh.

Meskipun proses pembuahan serta perkembangan telur dilakukan dalam saluran reproduksi, telur yang berkembang dari induk seperti yag terjadi pada hewan menyusui  Telur-telur yang dihasilkan oleh ikan raja di laut tergolong minim, kisaran 26 butir  dan tersimpan dalam saluran reproduksi atau disebut oviduct. Setelah dibuahi butuh waktu yang lama yaitu sekitar satu tahun hingga tumbuh jadi anakan yang siap untuk dilahirkan. Reproduksi yang minim serta penyebaran yang terbatas menjadi ikan raja laut ini mendapat  status konservasi terancam kepunahan.

Tonton video berikut…

(sumber: google search, LIPI)

Baca juga…Aplikasi Ijah, Bantu Peneliti Jamu untuk Proses Cepat Formulasikan Jamu

Baca juga … Mengapa Baterai Akhirnya Mati

Baca juga… Kartini Kartini Setangguh Kartono

Peringatan Hari Bumi 22 April 2019, Teratai Raksasa Amazon

Peringatan Hari Bumi 22 April 2019, teratai raksasa Amazon. Tanggal 22 April 2019 Google merilis google doodle sebagai persembahan peringatan Hari Bumi Sedunia. Google doodle kali ini tampilannya berupa video animasi yang bercerita tentang hewan dan tumbuhan yang terancam kepunahannya.

Hewan yang terancam kepunahannya adalah: burung Albatros, katak mikro paedophryne amauensis , ikan raja laut, ekor pegas gua dalam    

Tanaman yang tergolong yang harus dilindungi: redwood pesisir, teratai raksasa amazon

Teratai Raksasa Amazon

Teratai ini sangat besar dengan lebar daunnya sekitar 3 m dan cukup tebal daunnya sehingga bisa ditaruh seorang bayi atau anak dengan berat badan sekitar 10 kg, karena tangkai di bawah daun teratai itu cukup panjang yakni 7-8 meter jadi cukup kuat menahan beban di atasnya. Bunga teratai ini kalau tumbuh sangat mempesona dengan ukuran diameternya 40 cm.

(sumber: google search)

Baca juga….Warga Berkreasi Bangun Tempat Pemungutan Suara Pemilu Pilpres 2019 Menjadi Unik (1)

Baca juga…Warga Berkreasi Bangun Tempat Pemungutan Suara Pemilu Pilpres 2019 Menjadi Unik (2)

Baca juga…Warga Berkreasi Bangun Tempat Pemungutan Suara Pemilu Pilpres 2019 Menjadi Unik (3)

Peringatan Hari Bumi 22 April 2019, Paedophryne Amauensis Vertebrata Terkecil

Peringatan Hari Bumi 22 April 2019, paedophryne amauensis vertebrata terkecil.Tanggal 22 April 2019 Google merilis google doodle sebagai persembahan peringatan Hari Bumi Sedunia. Google doodle kali ini tampilannya berupa video animasi yang bercerita tentang hewan dan tumbuhan yang terancam kepunahannya.

Hewan yang terancam kepunahannya adalah: burung Albatros, katak mikro paedophryne amauensis , ikan raja laut, ekor pegas gua dalam    

Tanaman yang tergolong yang harus dilindungi: redwood pesisir, teratai raksasa amazon

Paedophryne Amauensis  atau Vertebrata Terkecil

Adalah katak  terkecil di dunia yang diketahui seukuran lalat, ungkap sebuah studi baru. Dengan panjang rata-rata 7,7 milimeter, lebih kecil dari pemegang rekor sebelumnya, yakni spesies ikan Asia Tenggara paedocypris progenetica, yang ukuran betinanya sekitar 7,9 milimeter.

Selama survei lapangan baru-baru ini di Papua Nugini selatan, para ilmuwan menemukan paedophryne amauensis dan spesies baru katak kecil lainnya, paedophryne swiftorum, yang berukuran sekitar 8,6 milimeter.

“Saya pikir itu luar biasa bahwa mereka terus menemukan katak yang lebih kecil dan lebih kecil,” kata Robin Moore, pakar amfibi dari Conservation International, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Sudah jelas mereka beradaptasi untuk masuk ke ceruk yang tidak didatangi oleh orang lain,” katanya.

Memang, katak ini kemungkinan berkembang-biak dalam ukuran kecil dan meraka makan invertebrata kecil pula, seperti tungau, makanan yang diabaikan oleh predator yang lebih besar, kata rekan penulis studi Christopher Austin, seorang ahli biologi di Louisiana State University di Baton Rouge.

Katak Mikro Sulit Ditangkap

Ditemukan pada 2010 tetapi diumumkan pada hari Rabu, semua spesies dari genus Paedophyrne berukuran kecil dan terlihat hidup hanya di tumpukan sampah daun di hutan hujan Papua.

Para ilmuwan itu menemukan hewan-hewan kecil dengan mendengarkan nada panggilan mereka dan mencoba menyimak sumber suara yang sulit ditangkap, karena nada tinggi panggilan bukan dari kata tersebut membuat sumber suara kata mikro itu sangat sulit bagi manusia untuk menemukan.

Austin bersama mahasiswa pascasarjana Eric Rittmeyer mencoba empat kali untuk menemukan katak mikro itu namun nihil. Karena putus asa meraih segenggam besar sampah daun dan memasukkannya ke dalam kantong plastik.

Para ilmuwan kemudian memilah-milah isinya sampai, “…akhirnya kami melihat benda mungil ini melompat dari salah satu dedaunan,” kata Austin.

Katak-katak itu sangat kecil menjadi kesulitan untuk melihat pola kulit mereka yang berwarna tanah dengan mata telanjang, sehingga Austin memutuskan mengambil gambar katak itu dan kemudian memperbesarnya, menggunakan kamera digital seperti mikroskop.

Ternyata sama sulitnya antara memotret katak mikro itu sama mencari mereka. Ketika Austin membawa kamera ke matanya, subjek sering hilang alias blur.

Katak-katak mikro itu adalah “pelompat luar biasa. Mereka dapat melompat 30 kali lebih lama dari ukuran tubuh mereka,” kata Austin, yang hasil studinya itu diterbitkan 11 Januari dalam jurnal PLoS ONE.

Katak Mikro New Guinea Tidak Sendiri

Sebagai bagian dari penelitian, Austin dan rekannya juga melakukan perbandingan genetik global katak kecil.

Tim menemukan bahwa katak kecil New Guinea itu telah berkembang-biak mandiri 11 kali sepanjang hidupnya, dan katak itu cocok hidup di hutan hujan tropis, di mana kulit amfibi tidak akan mengering dan makanan berlimpah untuknya

Seperti yang dikatakan dalam penelitian ini, “katak kecil bukan suatu hal aneh, tetapi keunikannya mewakili habitatya yang sebelumnya tidak dikenal.”.

Tonton video google doodle berikut…

(sumber: google search, national geographic)

Baca juga…. Menggunakan Spesifikasi Khusus Tinta Pemilihan Umum di Indonesia

Baca juga… Sejarah Singkat Pemilihan Umum Sejak Indonesia Merdeka Sampai Pemilu 2019

Baca juga….Alamat Bank Jatim Capem Yosowilangun Lumajang