Keinginan Darwis Triadi Menjadi Nyata, Memotret Resmi Presiden Jokowi

Keinginan Darwis Triadi menjadi nyata, memotret resmi Presiden Jokowi. Darwis Triadi, fotografer senior yang terkenal di tanah air kita. Dia adalah sosok dibalik karya foto resmi Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’aruf Amin 2019 – 2024, yang akan menghias seluruh perkantoran pemerintah, tempat pendidikan dan tempat-tempat resmi lainnya di Indonesia selama lima tahun.

Memotret Presiden Jokowi adalah keinginan lamanya. Saat jelang kampanye pemilihan presiden 2019, dirinya dipanggil untuk memotret Jokowi dan yang menjadi perantara adalah Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Ini sebuah kesempatan emas.

Karena yang difoto adalah orang nomor satu, Darwis Triadi harus totalitas.  Dia menekankan, memotret seorang tokoh penting banyak aspek yang harus dilakukan secara akurat. Sesi pemotretan terbilang singkat, yakni sekitar setengah jam, Darwis mengaku tidak merasa ada kesulitan berarti saat memotret Jokowi dan Ma’ruf Amin.

Melakukan segala prosesnya dengan waktu yang telah disepakati serta memberikan kenyamanan bagi Jokowi, itu menjadi tantangannya, cerita Darwis kepada Kompas.com

Dalam kesempatan itu, dia tak melewatkan untuk mengabadikan momen dirinya bersama Presiden RI Joko Widodo dan Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin. Darwis senang dan bangga bahwa hasil fotonya menjadi sejarah. Keinginan Darwis Triadi menjadi nyata, memotret resmi Presiden Jokowi

sumber: www.kompas.com

sumber gambar: tangkapan layar akun instagram@darwis_triadi

Ketika Kemoceng Salah Taruh

Ketika kemoceng salah taruh. Saat terhenti di perempatan lampu merah, depan saya ada sebuah mobil yang keren kinyis-kinyis (mulus). Masih gres.  Namun kemudian perhatian saya lebih tertuju pada suatu benda yang tidak seharusnya di situ, di sudut belakang mobil itu, sebuah kemoceng yang terselip.

Sepertinya pemilik mobil habis bersihkan debu yang membalut mobil tersebut dengan kemoceng lalu buru-buru untuk menjajal mobil barunya untuk keliling kota. Saking semangat empat lima-nya lupa kemoceng yang dia taruh sembarang tempat. Gagal fokus jadinya.  Selamat ya, dengan mobil barunya. Ketika kemoceng salah taruh.

Apasiya, Sesuatu yang Dipikiran Tidak Sama Dengan Penulisannya

Apasiya, sesuatu yang dipikiran tidak sama dengan penulisannya. Terkadang apa yang kita pikirkan lalu dituliskan, yang kita anggap benar,  ternyata bisa beda apa yang ditangkap pembaca. Maksudnya benar tapi hasilnya meleset. Seperti yang tersaji dalam foto berikut.

Maksud orang yang mengkonsep, bahwa bila masuk gang tersebut dengan membawa kendaraan harap kendaraannya dituntun, tidak boleh dikendarai.

Namun bagi yang membaca yang ‘centil’ bisa jadi anjuran itu berarti, bahwa yang akan masuk gang tersebut yang menggunakan kendaraan yang melayang begitu masuk gang tersebut harus turun. Karena pembaca yang centil ini akan tetap ngeyel pada pendiriannya, bahwa tulisan itu salah. Kalau motor atau sepeda pancal sudah menjejak tanah mosok disuruh turun lagi?

Hal ini sudah terjadi bertahun-tahun dan bisa dibilang salah kaprah, salah yang umum dan wajar-wajar saja. Dan sering kita lihat bila kita masuk sebuah gang. Toh tidak ada yang protes.

Jadi bagaimana anjuran yang benar penulisannya?

Nah, ini lebih jelas anjurannya.

Apasiya, sesuatu yang dipikiran tidak sama dengan penulisannya.

Penulis : KSmartini Muchdor