Arabian Street Food Festival di Banyuwangi

Arabian Street Food Festival di Banyuwangi. Kian kemilau nama Banyuwangi seiring dengan banyak gelaran festival yang diadakan. Mengangkat kekayaan lokal, seperti : festival budaya dan seni, kuliner, pendidikan dan masih banyak lainnya untuk menarik wisatawan.

Festival yang masih menyedot minat masyarakat adalah berbau kulineran. Seperti dengan dibukanya Arabian Street Food Festival, Kamis (31/10/2019) yang lalu kian menambah dalam daftar tujuan wisata. Bicara sensasi makanan Timur Tengah, mendadak tergambar jelas di pikiran kita adalah kambing guling, nasi kebuli, gulai, dll.

Daerah tujuan wisata kuliner ini berada di Lingkungan Kampung Arab, Kelurahan Lateng, Banyuwangi. Tepatnya jalan menuju Kampung Arab disulap menjadi daerah tujuan kuliner bersuasana Timur Tengah. Lokasi Arabian Street Food Festival ini juga sangat strategis karena letaknya di tengah Kota Banyuwangi. Gagasan ini merupakan gagasan dari warga Arab yang sudah menetap lama di Banyuwangi. Arabian Street Food (Arasfo) ini adanya tiap Kamis sore, antara pukul 16.00 hingga 21.00.

Pastinya yang suka kuliner Timur Tengah bakal bisa merasakan sensasi citarasa sajian menunya yang  menggoda dan mengundang liur. Aneka makanan dan minuman yang disajikan di Arabian Street Food Festival bervariasi. Semisal makanannya: sate, kaldu kambing, gulai kambing, dan kambing guling. Tak ketinggalan  jajanan khas Timur Tengah pun dihadirkan, di antaranya sambosa, roti Maryam, dan berbagai jenis kebab. Soal harga jangan khawatir, semua harga yang dipatok seperti harga pasar rakyat. Arabian Street Food Festival di Banyuwangi.

sumber: detik.news.com

sumber gambar: tangkapan layar @youtube

Tradisi Unik Omed-Omedan Di Sesetan Bali, Sering Disebut Festival Ciuman

Tradisi unik omed-omedan di Sesetan Bali, sering disebut festival ciuman. Bali kaya budaya dan tradisinya. Seperti salah satu tradisi uniknya yakni tradisi omed-omedan yang disebut sebagai festival ciuman ramai-ramai.

Setelah Hari Raya Nyepi tradisi omed-omedan diadakan,  yakni pada hari ngembak geni guna menyambut tahun baru Saka. Tradisi ini sudah ada sejak tahun 1900-an dan hanya bisa ditemukan di Banjar Sesetan. Dan tradisi ini telah berlangsung lama dan dilestarikan secara turun temurun.

Pernah pada 1970-an ditiadakan, namun mendadak di pelataran Pura terjadi perkelahian dua ekor babi. Mereka berdarah-darah dan terluka, lalu menghilang begitu saja. Hal tersebut dianggap sebagai pertanda buruk bagi semua warga Banjar.

Omed-omedan adalah bahasa Bali yang artinya tarik-menarik, karena para pesertanya melakukan aksi tarik menarik selama berlangsungnya festival ini.

Acara diawali dengan persembahyangan bersama untuk memohon keselamatan, dilanjut pementasan tarian barong bangkal (barong berkepala babi) sampai penarinya kesurupan, ini tanda bahwa acara mendapat izin dari Ida Bathara yang bersemayam di Pura Banjar.

Warga yang mengikuti omed-omedan berumur 17 sampai dengan 30 tahun akan dikelompokkan menjadi kelompok perempuan dan kelompok laki-laki. Lalu seluruh peserta harus mengikuti ibadah sembahyang dulu di pura. Peserta upacara ini terdiri dari 30 pria dan 30 wanita.

Setelah sembahyang, barulah kedua kelompok tadi berdiri berhadap-hadapan di pelataran pura. Dengan dipandu oleh pecalang (polisi adat), setiap kelompok akan memilih seorang wakil untuk diangkat dan diarak di barisan depan. Keduanya terpisah jarak sekitar 100 meter.

Setelah diberi aba-aba kemudian kedua kelompok  segera saling berlari ke arah lawannya. Masing-masing mendorong seorang remaja yang diberi kesempatan pertama untuk saling bertemu, berangkulan, untuk kemudian ditarik secepat mungkin hingga terlepas. Ada kalanya dua orang tersebut saling beradu pipi dan terlihat seperti ciuman bibir. Selain saling berpelukan dan tarik-tarikan, para peserta juga akan disiram air selama festival omed-omedan ini. Upacara ini dilakukan hingga jam 17.00 waktu setempat. Tradisi unik omed-omedan di Sesetan Bali, sering disebut festival ciuman.

Sumber: www.suara.com

Sumber gambar: tangkapan layar @youtube/suluhbali.co

Lomba Mengikat Kepiting Bulu China

Pada 11 Oktober 2019 lalu, penduduk  Desa Wupu, Kecamatan Zhili, Huzhou, Provinsi Zhejiang Cina Timur mengadakan Lomba mengikat kepiting bulu China sebagai penanda musim panen kepiting bulu tiba.

Desa Wupu memiliki lebih dari 80 hektar tambak kepiting bulu air tawar dengan nilai output tahunan sekitar 1,97 juta dolar AS. Sebelum dijual ke pasar kepiting bulu Cina yang dibudidaya di sini diikat terlebih dahulu. Lomba Mengikat Kepiting Bulu China.

sumber: www.xinhuanet.com

sumber gambar:  Xinhua/Xu Yu

Pekan Raya Porselen Musim Gugur di Jingdezhen

Pintu masuk pameran porselen

Pekan Raya Porselen Musim Gugur di Jingdezhen. Sebuah pameran porselen diadakan di Jingdezhen, Provinsi Jiangxi Cina timur, 17 Oktober 2019 dan akan berlangsung selama tiga hari.

Poerselen yang dipajang di pameran ini tidak hanya bentuk vas atau cangkir namun berbagai bentuk hasil kreasi masyarakat setempat yang cukup memukau. Warna-warna anggun dan serasi membalur semua karya kreasi dari porselen yang dipajang. Menggoda mata pecinta porselen dan masyarakat lainnya yang berkunjung melihat pameran itu. Pekan Raya Porselen Musim Gugur di Jingdezhen.

Seniman porselen tengah memajang hasil karyanya
Seniman porselen tengah memajang hasil karyanya
Seniman porselen tengah memajang hasil karyanya
Seorang seniman porselen tengah menjelaskan hasil kreasinya pada para pengunjung
Seorang pengunjung sedang mengamati produk porselen yang dipajang
Para pengunjung sedang melihat-lihat beragam model porselen yang dipamerkan
Seorang seniman porselen tengah meniup alat musik tiup dari poeselen

sumber             : www.xinhuanet.com

sumber foto     : www.news.cn/Zhou Mi

Hasil Kreasi Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Lumajang Tampil di Festival Tempe Mbludak Jogotrunan

Hasil kreasi warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Lumajang tampil di Festival Tempe Mbludak Jogotrunan. Mengharukan dan patut diacungi jempol hasil karya kreasi warga binaan LP Lumajang yang menghadirkan karyanya dalam festival tempe Jogotrunan pada Sabtu, 12-10-2019 di Jalan Hariyono, Lumajang.

tas hasil karya warga binaan wanita LP Lumajang

Ada tas rajutan hasil karya warga binaan wanita tersebut sangat cantik dengan paduan warna yang serasi. Tidak hanya itu, miniatur motor gede, gantungan kunci dan berbagai macam hasil kreasi seni lainnya mereka tak kalah menariknya dengan yang dijual di ruang-ruang usaha yang ada. Hasil kreasi warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Lumajang tampil di Festival Tempe Mbludak Jogotrunan

Author: KSmartini Muchdor

Jogotrunan Mbludak Karena Festival Tempe 2019

Jogotrunan Mbludak Karena Festival Tempe 2019. Berbagai festival dan gelaran acara- acara yang melibatkan para UKM ataupun UMKM sering diadakan digagas warga dan didukung oleh pemerintah daerah masing-masing dengan tujuan menampilkan potensi ekonomi suatu wilayah dan tentunya juga untuk meningkatkan daya beli masyarakat.

Bu Suprapti, salah seorang pengunjung, foto depan gunungan tempe dan tempe modhot

Seperti halnya festival tempe yang ke-3 pada Sabtu (12/10/2019) yang berlokasi di Jalan Hariyono, Kelurahan Jogotrunan, Kecamatan Lumajang, Kabupaten Lumajang. Jam 7 pagi waktu setempat sudah banyak warga berduyun-duyun datang ke tempat itu untuk menikmati sajian aneka olahan dari tempe.

tempe modhot untuk acara peresmian pembukaan festival tempe, dipotong oleh wabup

Stand yang menyajikan tempe ada 3. Pada stand pertama para timnya yang terdiri dari ibu-ibu menggoreng tempe, keripik tempe juga mendol untuk disajikan pada para penggunjung. Gratis. Tentu yang dilabel gratis lebih berjubel pengunjung dan cepat habis. Di stand ini juga menjual kripik tempe dan aneka minuman tradisional.

Stand kedua hanya menyajikan potongan-potongan tempe sebagai sampel hasil olahan dari pengusaha tempe yang berasal sebagian besar dari Desa Bagusari. Stand ketiga hampir sama dengan stand pertama namun tidak ada acara goreng-menggoreng.

selalu habis tempe goreng yang di hampar di tempeh hanya dalam hitungan menit
tempe gulung untuk keripik tempe yang dijual dalam bentuk gulungan
hamparan sampel tempe dari para pengusaha tempe

Tidak hanya festival tempe yang ditampilkan namun juga bazar, yang menyajikan aneka penganan dan minuman hasil olahan warga setempat. Tak hanya kulineran namun banyak produk kerajinan berupa tas, pernak-pernik hiasan rumah.

Festival ini dihadiri oleh Wakil Bupati Lumajang, Ibu Indah Amperawati dengan ceremonialnya memotong tempe modhot (melar, panjang) yang panjangnya 5 meter. Jogotrunan Mbludak Karena Festival Tempe 2019.

Author: KSmartini Muchdor