Bangkitkan Kembali Sektor Seni Kreatif Dan Kuliner Lewat Gelaran Festival Kembali2020 di Bali pada Oktober 2020

Bangkitkan Kembali Sektor Seni Kreatif Dan Kuliner Lewat Gelaran Festival Kembali2020 di Bali pada Oktober 2020.  Perekonomian Bali yang selama ini bersumber dari industri pariwisata dan menjadi bagian terpenting telah lumpuh akibat pandemi covid-19.

Bangkitkan Kembali Sektor Seni Kreatif Dan Kuliner Lewat Gelaran Festival Kembali2020 di Bali pada Oktober 2020

Karena alasan itu sebuah yayasan nirlaba bernama Yayasan Mudra Swari Saraswati yang berada di Ubud, Bali menggagas program “Kembali 2020: Rebuild Bali Festival Presented by ABC (Kembali 2020)” yang dijadwalkan berlangsung mulai 29 Oktober hingga 8 November 2020.

Dengan adanya gelaran Kembali 2020 diharapkan mampu menjadi inspirasi, stimulasi menghubungkan lagi dan merevitalisasi perekonomian serta masyarakat Bali.

Baca juga : Tradisi Unik Omed-Omedan Di Sesetan Bali, Sering Disebut Festival Ciuman

Kembali20 akan menjadi wadah berkumpulnya para pecinta sastra, seni, budaya dan kuliner agar dapat saling bertukar pikiran tentang inspirasi, ide serta hal-hal yang menjadi perhatian utama.

Adapun festival tersebut akan digelar secara daring sehingga diharapkan tanpa batas festival ini diketahui masyarakat dunia. Bangkitkan Kembali Sektor Seni Kreatif Dan Kuliner Lewat Gelaran Festival Kembali2020 di Bali pada Oktober 2020.

sumber : www.pikiranrakyat.com

Arabian Street Food Festival di Banyuwangi

Arabian Street Food Festival di Banyuwangi. Kian kemilau nama Banyuwangi seiring dengan banyak gelaran festival yang diadakan. Mengangkat kekayaan lokal, seperti : festival budaya dan seni, kuliner, pendidikan dan masih banyak lainnya untuk menarik wisatawan.

Festival yang masih menyedot minat masyarakat adalah berbau kulineran. Seperti dengan dibukanya Arabian Street Food Festival, Kamis (31/10/2019) yang lalu kian menambah dalam daftar tujuan wisata. Bicara sensasi makanan Timur Tengah, mendadak tergambar jelas di pikiran kita adalah kambing guling, nasi kebuli, gulai, dll.

Daerah tujuan wisata kuliner ini berada di Lingkungan Kampung Arab, Kelurahan Lateng, Banyuwangi. Tepatnya jalan menuju Kampung Arab disulap menjadi daerah tujuan kuliner bersuasana Timur Tengah. Lokasi Arabian Street Food Festival ini juga sangat strategis karena letaknya di tengah Kota Banyuwangi. Gagasan ini merupakan gagasan dari warga Arab yang sudah menetap lama di Banyuwangi. Arabian Street Food (Arasfo) ini adanya tiap Kamis sore, antara pukul 16.00 hingga 21.00.

Pastinya yang suka kuliner Timur Tengah bakal bisa merasakan sensasi citarasa sajian menunya yang  menggoda dan mengundang liur. Aneka makanan dan minuman yang disajikan di Arabian Street Food Festival bervariasi. Semisal makanannya: sate, kaldu kambing, gulai kambing, dan kambing guling. Tak ketinggalan  jajanan khas Timur Tengah pun dihadirkan, di antaranya sambosa, roti Maryam, dan berbagai jenis kebab. Soal harga jangan khawatir, semua harga yang dipatok seperti harga pasar rakyat. Arabian Street Food Festival di Banyuwangi.

sumber: detik.news.com

sumber gambar: tangkapan layar @youtube

Tradisi Unik Omed-Omedan Di Sesetan Bali, Sering Disebut Festival Ciuman

Tradisi unik omed-omedan di Sesetan Bali, sering disebut festival ciuman. Bali kaya budaya dan tradisinya. Seperti salah satu tradisi uniknya yakni tradisi omed-omedan yang disebut sebagai festival ciuman ramai-ramai.

Setelah Hari Raya Nyepi tradisi omed-omedan diadakan,  yakni pada hari ngembak geni guna menyambut tahun baru Saka. Tradisi ini sudah ada sejak tahun 1900-an dan hanya bisa ditemukan di Banjar Sesetan. Dan tradisi ini telah berlangsung lama dan dilestarikan secara turun temurun.

Pernah pada 1970-an ditiadakan, namun mendadak di pelataran Pura terjadi perkelahian dua ekor babi. Mereka berdarah-darah dan terluka, lalu menghilang begitu saja. Hal tersebut dianggap sebagai pertanda buruk bagi semua warga Banjar.

Omed-omedan adalah bahasa Bali yang artinya tarik-menarik, karena para pesertanya melakukan aksi tarik menarik selama berlangsungnya festival ini.

Acara diawali dengan persembahyangan bersama untuk memohon keselamatan, dilanjut pementasan tarian barong bangkal (barong berkepala babi) sampai penarinya kesurupan, ini tanda bahwa acara mendapat izin dari Ida Bathara yang bersemayam di Pura Banjar.

Warga yang mengikuti omed-omedan berumur 17 sampai dengan 30 tahun akan dikelompokkan menjadi kelompok perempuan dan kelompok laki-laki. Lalu seluruh peserta harus mengikuti ibadah sembahyang dulu di pura. Peserta upacara ini terdiri dari 30 pria dan 30 wanita.

Setelah sembahyang, barulah kedua kelompok tadi berdiri berhadap-hadapan di pelataran pura. Dengan dipandu oleh pecalang (polisi adat), setiap kelompok akan memilih seorang wakil untuk diangkat dan diarak di barisan depan. Keduanya terpisah jarak sekitar 100 meter.

Setelah diberi aba-aba kemudian kedua kelompok  segera saling berlari ke arah lawannya. Masing-masing mendorong seorang remaja yang diberi kesempatan pertama untuk saling bertemu, berangkulan, untuk kemudian ditarik secepat mungkin hingga terlepas. Ada kalanya dua orang tersebut saling beradu pipi dan terlihat seperti ciuman bibir. Selain saling berpelukan dan tarik-tarikan, para peserta juga akan disiram air selama festival omed-omedan ini. Upacara ini dilakukan hingga jam 17.00 waktu setempat. Tradisi unik omed-omedan di Sesetan Bali, sering disebut festival ciuman.

Sumber: www.suara.com

Sumber gambar: tangkapan layar @youtube/suluhbali.co

Lomba Mengikat Kepiting Bulu China

Pada 11 Oktober 2019 lalu, penduduk  Desa Wupu, Kecamatan Zhili, Huzhou, Provinsi Zhejiang Cina Timur mengadakan Lomba mengikat kepiting bulu China sebagai penanda musim panen kepiting bulu tiba.

Desa Wupu memiliki lebih dari 80 hektar tambak kepiting bulu air tawar dengan nilai output tahunan sekitar 1,97 juta dolar AS. Sebelum dijual ke pasar kepiting bulu Cina yang dibudidaya di sini diikat terlebih dahulu. Lomba Mengikat Kepiting Bulu China.

sumber: www.xinhuanet.com

sumber gambar:  Xinhua/Xu Yu

Pekan Raya Porselen Musim Gugur di Jingdezhen

Pintu masuk pameran porselen

Pekan Raya Porselen Musim Gugur di Jingdezhen. Sebuah pameran porselen diadakan di Jingdezhen, Provinsi Jiangxi Cina timur, 17 Oktober 2019 dan akan berlangsung selama tiga hari.

Poerselen yang dipajang di pameran ini tidak hanya bentuk vas atau cangkir namun berbagai bentuk hasil kreasi masyarakat setempat yang cukup memukau. Warna-warna anggun dan serasi membalur semua karya kreasi dari porselen yang dipajang. Menggoda mata pecinta porselen dan masyarakat lainnya yang berkunjung melihat pameran itu. Pekan Raya Porselen Musim Gugur di Jingdezhen.

Seniman porselen tengah memajang hasil karyanya
Seniman porselen tengah memajang hasil karyanya
Seniman porselen tengah memajang hasil karyanya
Seorang seniman porselen tengah menjelaskan hasil kreasinya pada para pengunjung
Seorang pengunjung sedang mengamati produk porselen yang dipajang
Para pengunjung sedang melihat-lihat beragam model porselen yang dipamerkan
Seorang seniman porselen tengah meniup alat musik tiup dari poeselen

sumber             : www.xinhuanet.com

sumber foto     : www.news.cn/Zhou Mi

Hasil Kreasi Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Lumajang Tampil di Festival Tempe Mbludak Jogotrunan

Hasil kreasi warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Lumajang tampil di Festival Tempe Mbludak Jogotrunan. Mengharukan dan patut diacungi jempol hasil karya kreasi warga binaan LP Lumajang yang menghadirkan karyanya dalam festival tempe Jogotrunan pada Sabtu, 12-10-2019 di Jalan Hariyono, Lumajang.

tas hasil karya warga binaan wanita LP Lumajang

Ada tas rajutan hasil karya warga binaan wanita tersebut sangat cantik dengan paduan warna yang serasi. Tidak hanya itu, miniatur motor gede, gantungan kunci dan berbagai macam hasil kreasi seni lainnya mereka tak kalah menariknya dengan yang dijual di ruang-ruang usaha yang ada. Hasil kreasi warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Lumajang tampil di Festival Tempe Mbludak Jogotrunan

Author: KSmartini Muchdor