Buwuh Pesta Pernikahan

Buwuh Pesta Pernikahan. Ini pun ceritaku tentang undangan sebuah pesta pernikahan, yang seharusnya kuceritakan juga pada saat cerita soal sound sistem pernikahan, namun kupisah agar ceritaku lebih fokus apa yang akan kupaparkan. Kali ini ceritaku tentang buwuh, atau kado untuk kemantenan dalam bentuk uang. Praktisnya disebut angpao.

Saat aku dan teman-teman seprofesi datang ke pesta pernikahan di pelosok kami serombongan memutuskan buwuh saja, tidak bawa kado. Dan seperti umumnya pesta pernikahan lainnya ketika sebelum menemui kedua mempelai kami berhenti dulu pada meja penerima tamu. Dua orang pria berkopyah dan baju koko sibuk menyatat pada sebuah buku besar. Kami berdiri antre menunggu dua ibu-ibu yang sedang berbicara dengan penerima tamu tersebut. Alangkah kagetnya ketika apa yang kulihat cara penerima tamu itu saat menerima buwuh dari para tamu undangan.

Dua ibu itu dengan sedikit kemayu dan penuh sumringah mengulurkan amplop yang ditangannya pada penerima tamu.

“Nama Sampean, Bu?” tanya pria penerima tamu.

“Bu Malik, Dusun Tebuan,” jawab ibu itu dengan nada riang.

Pria itu menyatat nama ibu tersebut pada buku besar ukuran folio. Lalu amplop tersebut dibuka dan dihitung berapa nilai uang dalam amplop. Kemudian ditulisnya sebuah angka serta tak lupa memberi angka sesuai nomor urut hadir pada amplop itu. Setelah itu amplop diulurkan pada pria di sebelahnya.

Pria yang satunya menutup kembali dengan plester bening yang telah disediakan lalu dimasukan pada kotak besar polos, seperti kotak suara pada saat pemilu. Sebuah mic diraihnya dan dia berkata, “Bu Malik dari Desa Tebuan hadir. Buwuhnya…”

Karuan saja aku dan rombongan jadi kikuk setelah melihat apa yang terjadi barusan. Sebelum tiba giliran di depan pria penerima tamu kami berbisik berunding bagaimana hadapi “tradisi seperti itu”. Bukan karena kuatir isi amplop kami tertelanjangi, bukan. Hanya saja kami jadi rikuh, tidak terbiasa.

Akhirnya tiba rombongan kami. Penerima tamu itu menyambutnya dengan senyum ramah-renyah. “Sampean siapa? Dari mana?”

Seniorku menjawab. “Saya Iqbal. Kami rombongan dari …. Kami teman dari mempelai pria.” Lalu seniorku mengulurkan amplop yang dibawanya. “Kalau boleh kami usul, bagaimana kalau Sampean tulis saja nama dan alamat kami, tapi kami mohon jangan ditulis jumlah uang yang di amplop itu. Kami sungkan saja, nilainya tak seberapa,” kata temanku dengan nada penuh permohonan dan merendah.

Pria menerima tamu itu mengangguk-angguk sembari tangannya meraba amplop yang diterimanya, seolah-olah sedang menaksir nilai uang buwuh itu. Aku tersenyum karena melihat apa yang tengah berlangsung.

“Begini, dengan dicatat tujuannya nanti siapa tahu Sampean punya hajatan apa saja dan kemanten ini bisa membalasnya, sesuai yang dicatat di sini.”

“Kami tidak mengharapkan balasan, Bapak. Kami sudah senang sudah diundang kemari dalam acara ini,” jawab seniorku dengan sopan.

“Baiklah, Bos,” jawab penerima tamu itu sepakat. Mungkin tidak semua tamu mau mengikuti apa yang jadi kebiasaan di lingkungan itu. Lalu dia melakukan tugasnya. Setelah semua dicatat nama rombongan kami, dia mempersilakan rombongan kami untuk menemui kedua mempelai dan menyebutkan satu persatu nama kami dengan suara mic yang cukup keras.

Ketika ada ketidakcocokan semua bisa dibicarakan baik-baik agar sama-sama sepakat. Dan kami pun cukup lega dengan apa yang kami putuskan dan segera lebur dengan suasana pesta pernikahan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *