Akibat Cara Jualan Online

Anwar memandangi sebungkus makanan ringan dengan wajah murung. Makanan ringan yang dikemas dalam media plastik mika yang menawan.

Beberapa hari ini Anwar mikir tentang jualannya yang kian hari kian menurun dan malah tak berkembang omzetnya. Enam bulan sudah dia bisnis kacang sangrai (digoreng tanpa minyak). Ia menilai produknya merupakan produk dengan kualitas bagus namun masih harga terjangkau oleh pembeli. Syarat-syarat dan standart untuk makanan ringan sudah dipenuhi. Didaftarkan. Tapi mengapa yang terjual minim?

Begitu juga dengan tampilan rukonya yang bersih dan cantik yang diatur tata letaknya oleh istrinya. Tapi mengapa sepi pembeli? Dia tidak habis pikir. Apalagi soal produk dari kompetitornya, yang dijual di ruko seberang, dengan mutu di bawahnya kok bisa laris manis. Heran tidak?

“Aku sih gak heran, War,” kata Slamet, penjual bakso di  ruko sebelah rukonya, suatu siang. “Jangan-jangan ada yang iri lalu jualan kamu dibuat sepi. Atau, dia pake mantra-mantra dari mbah dukun agar kacang sangrainya laris jos.”

“Ngawur kamu mikirnya.” Tanggap Anwar singkat dan segera mengalihkan topik ke hal yang lebih positif.

Anwar mikir terus untuk mencari jalan keluar agar omzet penjualannya naik. Karena kalau dibiarkan akan berdampak pada yang lain. Hasil panen kacang dari lahan kebunnya akan menumpuk ngganggur di gudang, serta pekerja yang membantunya selama ini.

Suatu hari dia senang bukan main. Anwar merasa mendapat jalan keluar dari masalah penjualan produknya. Dia mendapat info dari hasil googlingnya tentang cara memasarkan produknya. Informasi itu dibaca bersama istinya, sampai tuntas.

 “Inilah jalan keluarnya. Ayah daftar saja ke kursus online marketing itu. Jaman sekarang kan jaman digital. Semua serba digital, termasuk cara jualannya. Kita harus terbuka pada perubahan itu, Yah. Kita kan pedagang dan kudu mengikuti trends yang ada, yang bermanfaat.”

“Sekarang aku paham, produk sebagus apa pun kalau tidak ditunjang dengan pengetahuan teknik pemasaran ya sedikit lakunya. Juga buat calon konsumen, mereka akan tahu bahwa ada produk yang bagus dan cocok untuk dirinya.”

Perlahan-lahan perubahan omzet jualan kacang sangrainya menunjukan kenaikan. Anwar kian semangat mempraktekan ilmu yang didapatnya. Dan permintaan produknya kian bertambah, baik dalam kota juga luar kota. Anwar kian optimis.

Ternyata seperti itu teknik menjualnya. Dari cara membuat website ala bukalapak atau tokopedia. Ilmu bagaimana cara jualan di marketplace seperti bukalapak, tokopedia, shopee juga bagaimana cara promosi produk di media social seperti facebook, instagram, youtube, tweeter dan pinterest. Bagaimana mendatangkan calon konsumen dan langsung beli tanpa tolah-toleh (menoleh kiri-kanan untuk membandingkan). Dilengkapi video tutorialnya yang basic sekali. Dan teknik-teknik cara jualan online lainnya.

 Istrinya pun tertarik untuk belajar juga karena ada pembelajarannya live via internet atau disebut webinar. Webinar adalah salah satu teknologi yang memungkinkan pengguna untuk mengadakan seminar, talkshow, diskusi dan kegiatan lainnnya, yang dilakukan secara online atau menggunakan internet tanpa harus bertatap muka secara langsung sama sekali. Ini pas buat Anwar yang jauh dari tempat kursus itu, yang letaknya di ibukota.

Belajar terus praktek, belajar terus praktek dan “akibatnya” jualannya melaju pesat. Pendapatannya di luar perkiraannya. Lebih dari cukup, malah berlebih. Anwar dan istrinya bersyukur dan terus bersyukur.

Slamet, penjual bakso, suatu hari menyambanginya. Dia heran dengan perubahan bisnis Anwar yang menakjubkan. “War, bisnis kamu sekarang laris banget. Pake mbah dukun mana kamu?”

“Dari…dari Bintaro!” jawab Anwar terbahak. Karena Anwar orangnya baik dia menyeritakan bagaimana perubahan omzet jualan kacang sangrainya, dan memberi ilmu pada Slamet yang dia dapat dari kursus online marketing tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *