Dahsyat! Dari Racun Laba-Laba Pisang Brazil Untuk Disfungsi Ereksi

Dahsyat! Dari racun laba-laba pisang Brazil untuk disfungsi ereksi. Bagi yang sudah nonton film Spiderman tentu tahu bagaimana  asal lahirnya superhero tersebut. Peter Parker sebelum menjadi Spiderman dia digigit oleh laba-laba dan kemudian dia mempunyai kekuatan yang luar biasa.

Begitu juga dengan laba-laba pengembara atau dikenal dengan laba-laba pisang dari Brazil dimana gigitannya mematikan. Setelah dilakukan penelitian, gigitan laba-laba itu punya keunikan, yakni menyebabkan para korbannya mengalami ereksi selama empat jam sebelum menyebabkan kematian. Berdasar hal itu para peneliti menyebut racun laba-laba pisang tersebut punya kemampuan lebih dari Viagra.

Mengamati keunikan dari racun laba-laba pisang, para peneliti Brasil berpikir untuk memanfaatkannya sebagai obat mengatasi disfungsi ereksi.

Untuk mendapatkan manfaat tersebut, racun laba-laba tentunya tidak begitu saja dioleskan ke penis. Para peneliti mengolah racun laba-laba pengembara Brasil dalam bentuk gel. Gel tersebut menggandakan aliran darah ke penis yang menjadikan ereksi. Hasil tersebut didapatkan setelah diujikan pada tikus dan uji klinis.

Hasil rangkuman dari The Independent, Minggu (03/03/2019), para peneliti mengoleskan gel ini pada alat kelamin tikus yang mengalami disfungsi ereksi. Hasilnya, pembengkakan pada penis tikus terjadi selama sekitar 60 menit. Tidak ada tanda-tanda ketidaknyamanan atau bahaya dari gel ini. Dalam laporan di Journal of Sexual Medicine, para penulis mengatakan senyawa PnPP-19 dalam racun laba-laba itu bisa menjadi alternatif yang menjanjikan untuk pengobatan disfungsi ereksi.

Dilansir dari Mirror, Minggu (03/03/2019), Hal sama juga terjadi para uji klinis, dimana seorang pria yang mengoleskan gel ini ke alat kelaminnya dan mencapai ereksi dalam waktu kurang dari setengah jam tanpa efek samping.

Karena keberhasilan itu, para ahli mengklaim gel bekerja dengan meningkatkan kadar oksida nitrat dalam tubuh laki-laki. Hal ini, pada gilirannya, memperlebar pembuluh darah dan memungkinkan lebih banyak darah dipompa ke penis.
Ditambahkan, para peneliti mengatakan, pengobatan ini bisa digunakan untuk meningkatkan libido wanita. “Kami percaya itu bisa mengisi celah yang sangat besar di pasar dan membantu jutaan orang di seluruh dunia,” ujar Profesor Maria Elena de Lima, pemimpin penelitian ini. ” Lepas dari rangsangan seksual, hasil ini menunjukkan bahwa gel racun laba-laba pisang mampu memicu ereksi,” katanya mantap. Di samping itu, hasil uji klinis menunjukkan tidak adanya efek samping dari gel tersebut. ” Bagi pasien disfungsi ereksi gel ini menjadi pilihan yang aman dan efektif, ” pungkasnya.

(sumber: kompas.com)

Suhu Udara Diprediksi Tembus 40 Derajat Celsius, Jerman Hadapi Gelombang Panas

Suhu udara diprediksi tembus 40 derajat celsius, Jerman hadapi gelombang panas.

Warga Jerman mendinginkan diri di sebuah danau di Haltern am See, Jerman bagian barat saat suhu melonjak hingga 38° C.

Seorang perawat binatang dengan penuh kasih sayang membalurkan lotion pada seekor tapir dataran rendah saat cuaca yang begitu teriknya di sebuah kebun binatang di Hodenhagen, Jerman.  Saat ini Jerman menghadapi gelombang panas dengan suhu dan radiasi UV yang tinggi.

(sumber: VOAIndonesia.com)

Biji Coklat sebagai Mata Uang Pembayaran Bangsa Maya

Biji coklat sebagai mata uang pembayaran bangsa Maya. Bisa jadi coklat favorit Anda bernilai emas di masa kejayaan bangsa Maya. Sebuah penelitian baru mengungkapkan bahwa cokelat menjadi mata pembayaran pada puncak masa keemasan bangsa Maya — dan bahwa hilangnya kelezatan coklat ini memainkan peran dalam kejatuhan peradaban yang terkenal itu.

Studi ini berada di jalur yang benar, kata David Freidel, seorang antropolog dan pakar bangsa Maya di Universitas Washington di St. Louis, Missouri, yang tidak terlibat dengan pekerjaan itu. “Cokelat merupakan makanan yang penuh citarasa yang tinggi,” katanya, “dan hampir pasti merupakan mata uang.”

Bangsa Maya kuno tidak pernah menggunakan koin sebagai uang. Sebaliknya, seperti banyak peradaban awal, mereka melakukannya sebagian besar barter, barang-barang perdagangan seperti tembakau, jagung, dan pakaian. Catatan kolonial Spanyol dari abad ke-16 menunjukkan bahwa orang Eropa menggunakan biji kakao — dasar untuk cokelat — untuk membayar pekerja, tetapi tidak jelas apakah biji kakao itu merupakan mata uang utama sebelum kedatangan mereka.

Untuk mengetahuinya, Joanne Baron, seorang arkeolog dengan Bard Early College Network — jaringan sekolah yang fokus pada pengajaran tingkat perguruan tinggi untuk siswa usia sekolah menengah — di Newark, New Jersey, menganalisis karya seni Maya.

Salah satu gambaran paling awal cokelat  digunakan dalam pertukaran pada pertengahan abad ke-7. Dalam sebuah lukisan dinding yang dipajang di sebuah piramida menggambarkan sebuah pasar utama di dekat perbatasan Guatemala, seorang wanita menawarkan semangkuk cokelat panas untuk pria sebagai imbalan atas adonan yang digunakan untuk membuat tamale, sejenis jenang jagung lalu dibungkus daun jagung itu sendiri.

Di pertengahan abad ke-7 ini bukti kemudian menunjukkan bahwa cokelat menjadi sedikit lebih seperti uang koin — yakni dalam bentuk biji kakao yang difermentasi dan dikeringkan.

Baron percaya fakta bahwa raja-raja Maya mengumpulkan kakao dan kain tenun sebagai pajak dan menunjukkan bahwa keduanya telah menjadi mata uang pada saat itu. “Mereka mengumpulkan kakao jauh lebih banyak daripada yang dikonsumsi istana,” katanya, seraya menambahkan bahwa surplus itu mungkin digunakan untuk membayar pekerja istana atau untuk membeli barang di pasar.

Beberapa sarjana percaya kekeringan menyebabkan jatuhnya peradaban Maya Klasik. Baron berspekulasi bahwa gangguan pasokan kakao yang mempengaruhi kekuatan politik sehingga menyebabkan gangguan ekonomi dalam beberapa kasus.

Dia juga meragukan bahwa hilangnya kakao berkontribusi pada kejatuhan Maya. Biji kakao bukan satu-satunya jenis mata uang, catatan Freidel — kain tenun dan barang-barang lain seperti biji jagung atau jenis batu hijau tertentu juga mungkin digunakan sebagai uang. “Tebakan saya adalah bahwa satu komoditas mengalami crash tidak akan menyebabkan sistem crash.”

(sumber: sciencemag.com)

Jalan Yungas Utara, Jalan Menjemput Maut

Jalan Yungas Utara, Jalan Menjemput Maut. Karena kondisi untuk berkendara yang buruk, jalan Yungas di Bolivia mendapat julukan “Jalan Kematian,” dan termasuk dalam beberapa daftar rute paling berbahaya di planet ini.

Jalan itu menghubungkan ibukota Bolivia dari La Paz dengan wilayah dataran rendah Yungas di hutan hujan Amazon. Untuk melakukannya, jalan harus melintasi perbukitan Cordillera Oriental yang menjulang perkasa. Mulai dari La Paz, ibu kota tertinggi di dunia dengan ketinggian 3.660 meter, jalan Yungas pertama-tama naik ke 4.650 meter di La Cumbre Pass, dan kemudian turun ke kota Coroico, di ketinggian hanya 1.200 meter. Penurunan yang sedikit dari 3.650 meter ini adalah salah satu jalan terpanjang terpanjang di dunia. Menurut beberapa berita diperkirakan dalam setahun antara 200 dan 300 orang meninggal karena kecelakaan di daerah itu.

Dibangun pada tahun 1930-an oleh tahanan Paraguay selama Perang Chaco, di tempat-tempat itu sisi tebing curam dipotong. Satu sisi jalan adalah batuan padat, sisi yang lain merupakan jurang sedalam 600 meter. Sebagian besar jalan hanya selebar 3,5 meter, dan beberapa bagian tidak diaspal, tanpa pagar pengaman di sisi jurang. Angin hangat dan lembab dari Amazon menghantam lereng timur Andes yang membawa hujan lebat dan kabut membasahi jalan yang sudah berbahaya di tengah derasnya air. Ada banyak tanah longsor dan bebatuan berjatuhan, dan air terjun kecil terkadang turun dari sisi tebing.

Keadaan menjadi lebih buruk, bila saling bertemu kelompok pengendara sepeda di sepanjang jalan ini, bersalipan. Karena internet mengubah jalan ini menjadi tenar untuk tujuan bagi penggemar olahraga ekstrem, terutama pengendara sepeda motor. Beberapa pemandu tur mengatur perjalanan semacam itu. Tak bisa dihindari, setidaknya 13 pembalap telah tewas dalam berbagai kecelakaan dalam 10 tahun terakhir.

Dengan terjadinya kondisi seperti itu beberapa kebijakan dilakukan demi pencegahan angka kecelakaan. Aturan khusus berlaku di jalan Yungas. Sementara pengemudi Bolivia mengemudi di sisi kanan, di sini kendaraan mengemudi di sebelah kiri. Seorang pengemudi di sebelah kiri memiliki pandangan yang lebih baik dari tepi jalan.

Pemerintah Bolivia berusaha meningkatkan keselamatan para pengguna jalan, tetapi konstruksi di medan yang ekstrem seperti itu mahal dan lambat. Bagian paling utara dari jalan asli telah digantikan oleh rute alternatif dengan jalan raya dua jalur yang modern dan jauh lebih aman.

(sumber : www.atlasobscura.com)

Jalan Karnali, Jalan Adu Nyali

Jalan Karnali, Jalan Adu Nyali. Keternaran Jalan Karnali, Nepal, hampir mengalahkan julukan Jalan Yungas Utara sebagai jalanan paling mematikan di dunia. Jalan Karnali menghubungkan Jumla dan Surkhet, jalanan sepanjang 250 km dan bagi beberapa pengemudi tidak punya pilihan selain melintasi jalan ini dan berharap yang terbaik.

Kendaraaan yang melintas jalan ini tidak hanya harus berhati-hati, sikap waspada diperlukan apabila lewat sini. Karena tebing yang curam sedalam puluhan meter dan ancaman longsor setiap saat terjadi.

Korban kecelakaan yang meninggal setiap tahun di jalan Karnali adalah sekitar 50 orang. Ini sebagian besar dikarenakan jalan yang tidak beraspal dan lubang dalam yang disambung dengan tanjakan yang curam.

(sumber: postfun.com)